Peringatan Hari Buku Sedunia kembali menjadi refleksi penting bagi masyarakat dalam memperkuat budaya literasi di tengah derasnya arus digitalisasi. Momentum ini menegaskan bahwa buku tetap memegang peran strategis dalam membangun kualitas intelektual dan profesional di era modern.
Divisi Program dan Fundraising Kantor Layanan Lazismu Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur (KLL PWNA Jatim), Nurulita Ipmawati, menilai peringatan ini sebagai pengingat kuat akan urgensi membaca dalam kehidupan sehari-hari.
“Hari Buku Sedunia saya maknai sebagai pengingat pentingnya membaca. Buku menjadi sarana untuk menambah wawasan agar kita terus belajar dan berkembang,” ujar Nurulita, Rabu (22/4/2026).
Dalam perspektif ekonomi, ia menegaskan buku memiliki fungsi vital sebagai sumber teori, data, hingga analisis mendalam. Buku dinilai mampu menjadi fondasi dalam memahami berbagai fenomena ekonomi, mulai dari dinamika pasar hingga arah kebijakan publik.
“Buku membantu kita memahami ekonomi secara lebih sistematis dan komprehensif,” katanya.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Nurulita menekankan bahwa eksistensi buku tidak tergantikan. Ia mengakui teknologi memberi kemudahan akses informasi secara cepat, namun buku tetap unggul dalam memberikan kedalaman analisis.
“Dalam dunia ekonomi dan bisnis, buku masih menjadi rujukan utama. Teknologi memang efisien, tetapi buku memberikan pemahaman yang lebih mendalam, termasuk dalam strategi bisnis dan kebijakan ekonomi,” jelasnya.
Menurutnya, sinergi antara buku dan teknologi digital justru menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas pengambilan keputusan di era modern.
Lebih lanjut, Nurulita juga mengungkapkan buku yang berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya, yakni Ekonomi Pembangunan Syariah. Buku tersebut dinilai mampu membuka perspektif baru tentang konsep pembangunan dalam Islam.
“Buku ini menekankan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencakup kesejahteraan, keadilan sosial, serta keseimbangan antara aspek material dan spiritual,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan ekonomi tidak cukup diukur dari produk domestik bruto (PDB), melainkan juga kualitas hidup serta nilai moral masyarakat.
Pemahaman tersebut mendorongnya untuk lebih kritis dalam menganalisis kebijakan ekonomi, khususnya dengan mempertimbangkan aspek keadilan sosial serta dampak jangka panjang bagi masyarakat luas.
Dalam upaya meningkatkan minat baca generasi muda, Nurulita menawarkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya membangun motivasi internal, membiasakan membaca secara rutin, hingga menuliskan kembali isi bacaan sebagai bentuk refleksi. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya budaya diskusi agar proses literasi menjadi lebih hidup.
“Minat baca tidak tumbuh secara instan. Perlu dibangun melalui kebiasaan, lingkungan yang mendukung, serta kesadaran akan manfaat jangka panjang,” tuturnya.
Peringatan Hari Buku Sedunia tahun ini menjadi penegas bahwa di tengah banjir informasi instan, buku tetap menjadi sumber pengetahuan yang kokoh. Lebih dari sekadar media membaca, buku merupakan jendela untuk memahami dunia secara utuh, kritis, dan berimbang. (fathan faris saputro)
