Bagi umat Islam, Rabi`ul Awal adalah bulan yang spesial. Pasalnya, bulan ini merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, sudah sepatutnya umat Islam memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan ibadah, dzikir, serta amal kebaikan lainnya agar kelak mendapatkan syafa`atnya.
Selain itu, momen tersebut juga penting sebagai wahana “menghadirkan” kembali sosok Nabi yang Agung. Rasul utusan Allah SWT yang memiliki pribadi dan akhlak sempurna dengan tujuan agar pesona pribadi beliau tidak hilang ditelan zaman namun terus lestari sebagai teladan bagi ummatnya.
Di tengah gempuran teknologi informasi yang massif, pesona pribadi beliau harus terus digencarkan baik melalui kajian di masjid, mushola, majjelis taklim ataupun melalui tulisan diberbagai platform digiltal agar generasi muda tidak abai atau bahkan lupa terhadap akhlak dan kepribadian nabi yang mulia.
Bahwa Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) sekaligus puncak keteladanan moral. Mengikuti dan meneladani akhlak beliau bukan sekadar anjuran sosial, melainkan fondasi keimanan seorang muslim.
Al-Qur’an dan hadis sahih menegaskan kedudukan mulia Nabi SAW sebagai uswatun hasanah (suri teladan yang baik) sebagaimana firman Allah SWT:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Allah SWT juga memuji keagungan budi pekerti beliau secara langsung: sebagaimana firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4).
Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT memiliki misi khusus. Misi tersebut adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadis sahih:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Ketika ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya mengenai kepribadian beliau sehari-hari, ia menjawab dengan kalimat pendek namun dapat menggambarkan kesempurnaan akhlak beliau:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Artinya:“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim)
Karakter Nabi SAW mencakup seluruh aspek hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan antarmanusia (hablum minannas). Dengan kata lain keteladanan Rasulullah SAW tidak terbatas pada urusan ibadah ritual semata, melainkan mencakup seluruh ranah kehidupan.
Sebagai pemimpin dan bernegara, beliau mengedepankan musyawarah, menerapkan keadilan hukum tanpa pandang bulu, serta menjaga hak-hak minoritas melalui piagam Madinah.
Dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga, belaiau menjadi suami yang penuh empati, menghargai istri, bersenda gurau dengan anak-cucu, dan menyelesaikan persoalan rumah tangga dengan kelembutan.
Pada bidang perekonomian dan bisnis, beliau menjunjung tinggi transparansi, melarang kecurangan dalam timbangan, serta menjauhi transaksi ribawi dan eksploitatif.
Nabi SAW juga memiliki kepedulian sosial dan kemasyarakatan yang tinggi. Di mana beliau senantiasa menjaga kebersihan lingkungan, menengok orang sakit, menyantuni anak yatim, serta menghormati tetangga tanpa memandang latar belakang.
Meneladani Rasulullah SAW di era modern dapat direalisasikan melalui langkah strategis diantaranya:
- Etika digital yaitu menggunakan media sosial dengan menjauhi ujaran kebencian, hoaks. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi untuk berkata baik atau lebih baik diam.
- Profesionalisme kerja dengan menjalankan amanah pekerjaan secara transparan, akuntabel, dan bebas dari korupsi.
- Kepedulian sosial dan lingkungan yang diwujudkan dengan menjaga kelestarian alam, menghemat air, dan aktif dalam kegiatan kemanusiaan.
Mengintegrasikan akhlak Rasulullah SAW ke dalam kehidupan sehari-hari merupakan kunci utama pembentukan karakter mulia dan peradaban yang berkeadilan. Untuk itu, pada momen maulid Nabi SAW ini mari kita gunakan untuk berittiba’ pada Rasul SAW agar terwujud kehidupan yang damai. (*)
