Prof. Mundakir: Menilik Hubungan Sedekah dan Kesehatan Mental

Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep.
www.majelistabligh.id -

Kebahagiaan, kesejahteraan, dan limpahan rezeki senantiasa menjadi untaian doa yang paling sering dipanjatkan oleh setiap manusia. Dalam ajaran Islam, jalan untuk menjemput keberkahan tersebut telah digariskan melalui berbagai amalan, salah satunya adalah dengan berinfak dan bersedekah. Berbagai dalil sahih pun telah menjanjikan bahwa setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan dibalas dengan ganjaran yang berlipat ganda.

Namun, pernahkah kita melihat amalan mulia ini dari sudut pandang yang berbeda? Apakah infak dan sedekah yang kita tunaikan secara rutin juga mampu menyehatkan hati dan menjaga kesehatan mental kita?

Pertanyaan mendasar inilah yang dikupas dalam kajian Majelis Ahad Pagi KH Ahmad Dahlan yang berlangsung di Masjid At-Taqwa, Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu, pada Ahad (17/5/2026). Hadir sebagai pembicara, Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Ketua Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MKPU) PWM Jawa Timur, yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA). Dalam kajian ini, Prof. Mundakir membawakan tema menarik yang mengawinkan nilai-nilai spiritual dan sains: “Bersedekah dan Kesehatan Mental”.

Motif Manusia dalam Berbuat Baik

Di hadapan para jemaah, Prof. Mundakir membedah fenomena bersedekah ini melalui kacamata psikologi modern, khususnya teori motivasi manusia (human motivation). Beliau menjelaskan bahwa dorongan seseorang untuk berbuat baik kepada sesama umumnya didasari oleh tiga motif penting, yakni:

  • Dorongan Berprestasi (Achievement): Keinginan kuat dalam diri seseorang untuk mencapai sesuatu yang bernilai dan meraih kesuksesan.
  • Kebutuhan Afiliasi (Affiliation): Kebutuhan mendasar manusia untuk dapat diterima, diakui, dan menjadi bagian dari suatu komunitas atau kelompok sosial.
  • Kepentingan Kekuasaan (Power): Motivasi yang berorientasi pada pengaruh dan kendali. “Biasanya motif ketiga ini biasanya paling jamak terlihat dan meningkat drastis menjelang momentum pemilihan umum,” kata Mundakir.

Lebih lanjut, Prof. Mundakir mengaitkan aktivitas memberi ini dengan Self-Determination Theory (Teori Penentuan Nasib Sendiri). Teori ini merumuskan bahwa seorang individu dapat mencapai kebahagiaan sejati dan kesejahteraan psikologis (psychological well-being) apabila mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, yang meliputi:

  1. Otonomi: Memiliki kewenangan penuh atas tindakan diri sendiri dan mengambil keputusan secara mandiri tanpa adanya tekanan atau pengaruh dari luar.
  2. Kompetensi: Merasa mampu dan memiliki kapasitas—baik dalam bentuk penguasaan ilmu, kecukupan harta, maupun keterampilan bersosialisasi—untuk memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.

“Ketika seseorang bersedekah secara tulus, ikhlas, mereka sedang mengaktualisasikan otonomi dan kompetensinya. Mereka memilih secara bebas untuk membagikan kelebihan yang dimiliki, yang pada gilirannya menumbuhkan perasaan berdaya dan bermakna,” tambahnya.

Ditinjau dari sudut pandang neuroscience (ilmu saraf), efek positif dari bersedekah ternyata bukan sekadar sugesti psikologis, melainkan sebuah proses biologis yang nyata di dalam tubuh.

“Saat kita memberi, berinfak, atau bersedekah, sistem otak kita memberikan respons yang sangat positif. Aktivitas berbagi ini memicu pelepasan hormon-hormon kebahagiaan dalam tubuh,” ungkap Prof. Mundakir.

Ia menambahkan, ketika hormon kebahagiaan seperti endorfin, dopamin, dan oksitosin keluar, sistem saraf akan merespon dengan menurunkan hormon stres (kortisol). Alhasil, tubuh dan pikiran menjadi jauh lebih tenang, damai, dan rileks. Fenomena ilmiah inilah yang sering disebut sebagai helper’s high—sebuah kondisi sehat mental dan kepuasan batin yang didapatkan justru setelah kita meringankan beban orang lain.

Melalui kajian Majelis Ahad Pagi ini, para jemaah diajak untuk memahami bahwa sedekah tidak pernah mengurangi harta, melainkan sebuah investasi tanpa rugi. Tidak hanya mendatangkan pahala dan kelipatan rezeki di akhirat, sedekah yang landasi dengan keikhlasan adalah obat mujarab yang menjaga kesehatan mental dan membersihkan hati di dunia. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search