Seminggu terakhir, masyarakat di sejumlah daerah di Pulau Jawa dipaksa melatih kesabaran. Ritual menyalakan lilin atau senter HP, kembali marak akibat pemadaman listrik bergilir. Istilah “byar-pet” yang sempat kita kira sudah punah bersama kenangan masa lalu, mendadak kembali bernostalgia.
Di tengah kegelapan tersebut, masyarakat tidak hanya disuguhi padamnya lampu, tetapi juga drama klasik, informasi yang saling silang.
Saat media sosial PLN mengumumkan pemadaman sudah diminimalkan pada Senin (22/6/2026), di saat yang sama mendadak mati tanpa aba-aba. Klaim “sudah diminimalkan” dari korporasi plat merah ini nyatanya belum bisa membuat masyarakat lega, apalagi tidur nyenyak tanpa AC atau kipas angin di tengah gerahnya malam.
Mari kita jujur, manusia modern hari ini adalah makhluk yang “bergantung pada listrik”. Ketika aliran daya diputus selama beberapa jam saja, sistem kehidupan rumah tangga langsung terganggu.
- Konektivitas Putus: Wi-Fi mati seketika. Paket data ponsel yang diandalkan sebagai cadangan pun ikut melambat karena menara pemancar (BTS) kehilangan daya. Komunikasi pun terhambat.
- Dapur Mogok: Memasak nasi menggunakan rice cooker atau panci listrik mendadak jadi kemewahan yang tertunda. Alhasil, beras tetap menjadi beras, dan perut dipaksa berkompromi.
- Kerja Berantakan: Bagi mereka yang bekerja dari rumah (Work From Home), komputer yang mati tiba-tiba bukan sekadar mematikan layar, tetapi berpotensi menghilangkan data pekerjaan yang belum sempat tersimpan.
Kita digadang-gadang menuju era kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik, namun realitasnya kita masih sering bingung mencari korek api untuk menyalakan lilin.
Mengapa Bisa Terjadi
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik layar hulu energi kita? Mengapa Pulau Jawa yang lumbung listriknya melimpah bisa mengalami defisit?
Data terbaru menunjukkan bahwa akar masalahnya adalah klasik, birokrasi dan pasokan bahan bakar pembangkit. Keterlambatan pasokan batu bara terjadi akibat lambatnya proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di Kementerian ESDM. Masalah pemadaman ini makin diperparah oleh penurunan kualitas batu bara kalori medium di dalam negeri serta adanya penyesuaian target produksi nasional.
Akar dari krisis energi yang memicu pemadaman bergilir ini bermuara pada tiga poin krusial di sektor hulu.
- Pertama, terjadi kekurangan pasokan yang sangat signifikan, di mana defisit sempat mencapai 22 juta ton batu bara. Hal inilah yang menjadi pemicu utama merosotnya pasokan listrik untuk wilayah Jawa dan Bali secara drastis.
- Kedua, masalah kendala perizinan birokrasi. Meskipun target produksi nasional telah dipatok sebesar 600 juta ton, sejumlah perusahaan tambang justru mengalami hambatan besar dalam proses produksi dan pengiriman karena harus menunggu kepastian izin operasional yang tak kunjung turun.
- Ketiga, pemerintah melalui Kementerian ESDM bersama PLN kini terus mengupayakan berbagai langkah darurat. Upaya tersebut meliputi penyesuaian Harga DMO (Domestic Market Obligation), berburu 20 juta ton medium rank coal (batu bara kalori medium) sebagai tambahan, serta mempercepat proses perizinan agar pasokan energi kembali normal dan pemadaman bergilir dapat segera diatasi.
Pemerintah dan PLN memang tidak tinggal diam. Mereka sedang sibuk menggenjot perizinan dan mencari pasokan batu bara tambahan agar pemadaman bergilir ini segera berakhir. Kita tentu mengapresiasi kerja keras tersebut.
Masyarakat tidak butuh narasi saling silang yang membingungkan antara evaluasi internal dan realitas di lapangan. Yang dibutuhkan sederhana, ketika sakelar ditekan, lampu menyala.
Semoga janji pemadaman yang “sudah diminimalkan” ini segera menjelma menjadi “pemadaman yang ditiadakan”, agar lilin-lilin di rumah kita kembali ke fungsinya yang semula. Sebagai pemanis makan malam romantis. (*)
