Sosok Nabi Muhammad saw bukan sekadar teladan bagi umat Islam, melainkan juga inspirasi bagi seluruh umat manusia (rahmatan lil ‘alamin). Nilai-nilai universal yang dibawa Rasulullah saw tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman dan melampaui batas-batas geografis.
Pesan tersebut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Syafiq A. Mughni, dalam acara tausiyah dan pengajian bersama diaspora Muslim Indonesia di Indonesian Islamic Centre (IIC) London, Inggris, Kamis (27/8/2026). Agenda ini dihadiri oleh jajaran Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya dan Irlandia serta masyarakat Muslim setempat.
Merujuk pada Al-Qur’an, Syafiq menjabarkan empat risalah penting yang dibawakan Rasulullah untuk mengentaskan manusia dari kondisi Al-Ummiyin (kebutaan terhadap kebenaran):
1.Mengajak Manusia Membaca Ayat Allah (Yatluu ‘Alaihim Aayaatihi)
Risalah ini mengajak manusia membaca dan merenungi alam semesta sebagai tanda kekuasaan-Nya. Menurut Syafiq, semakin dalam seseorang memahami alam, semakin besar peluangnya untuk merasakan kedekatan dengan Allah Swt.
2. Pembersihan Jiwa dan Moral (Wayuzakkiihim)
Tugas kenabian berikutnya adalah membersihkan masyarakat dari penyakit sosial dan kemerosotan moral. Mengutip bait syair klasik, Syafiq menegaskan bahwa tegaknya suatu bangsa sangat bergantung pada akhlaknya. Apabila moral hancur, hancur pula bangsa tersebut.
3. Mengajarkan Al-Kitab (Wayu’allimuhumul-Kitaba)
Dakwah Islam seyogianya merangkul dan mempermudah umat dalam mempelajari Al-Qur’an, bukan malah menjauhkan mereka karena merasa dihakimi. “Dalam belajar Al-Qur’an, yang terpenting adalah kemauan. Jangan pernah berhenti belajar dan merasa sudah pintar,” pesannya.
4. Mengajarkan Hikmah dan Kebijaksanaan
Syafiq menekankan bahwa berpijak pada kebenaran saja tidak cukup dalam berdakwah. Kebenaran harus disampaikan dengan hikmah. Ia mengutip QS. Al-Baqarah ayat 269 yang menyebutkan bahwa siapa pun yang dianugerahi hikmah, sungguh telah mendapat kebaikan yang melimpah.
Memahami Nabi Melalui Tiga Dimensi
Di akhir ceramahnya, Syafiq mengajak jamaah memahami sosok Nabi Muhammad saw melalui tiga dimensi secara proporsional:
- Dimensi Basyar (Manusia Biasa): Beliau mengalami rasa lapar, dahaga, sedih, dan bahagia sebagaimana manusia pada umumnya.
- Dimensi Kebudayaan (Masyarakat Arab): Beliau hidup dalam konteks budaya, tradisi, pakaian, dan makanan khas Arab pada masanya.
- Dimensi Kenabian (Nabi & Rasul): Beliau membawa wahyu dan risalah Ilahi yang menjadi tuntunan hukum serta moral bagi seluruh umat manusia.
“Pemahaman terhadap tiga dimensi ini penting agar kita dapat membedakan antara aspek kemanusiaan dan kebudayaan Nabi dengan aspek kenabian yang menjadi tuntunan agama. Kita harus selalu memiliki kerendahan hati untuk terus belajar dan memperbaiki diri,” tambah Syafiq. (*/tim)
