Dulu (1/8/2022), ketika masih menjabat sebagai Wakil Presiden, KH. Ma’ruf Amin dalam acara Dzikir dan Doa Kebangsaan 77 tahun Indonesia Merdeka di Istana Merdeka, pernah mengatakan bahwa penduduk Indonesia akan menjadi penghuni surga terbanyak.
Pendapat ini ada benarnya, karena saat ini, umat Islam Indonesia adalah terbesar di dunia. Mereka bisa masuk surga dengan “dicuci” dulu di neraka, karena perbuatannya. Terutama, mereka yang suka korupsi uang negara dan mengambil hak-hak rakyat. Dosanya harus ditebus dulu, meski akhirnya akan dimasukkan ke dalam surganya, karena syahadatnya. Itulah dahsyatnya syahadat.
Terlebih lagi, kepada yang di akhir hembusan nafasnya yang terakhir, ia mengucapkan lā ilāha illa Allah. Sebagaimana hadis Nabi yang berbunyi,
من قال لا إله إلا اللهُ دخل الجنَّةَ
“Barangsiapa yang mengatakan Laa ilaaha illa-Llah pasti masuk surga.”
Atas hadis ini Syekh Hasan Al-Bashri menafsirkan,
من قال «لا إله إلا الله» فأدَّى حقها وفرضها دخل الجنة
“Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah, lalu menunaikan hak dan kewajibannya (konsekuensinya), pasti akan masuk surga“.
Ada lagi sebuah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash r.a., Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟! فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، قَالَ: فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya Sembilan puluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman, ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini? Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendhalimimu?” Orang itu berkata, ‘Tidak, wahai Tuhanku.’
Allah berfirman, ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur (alasan) atau mempunyai kebaikan?’ Orang itu pun tercengang dan berkata, ‘Tidak, wahai Rabb.’
Allah berfirman, ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan.’ Tidak ada kedhaliman terhadapmu pada hari ini. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis “Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh” (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).
Allah berfirman, ‘Perlihatkan kepadanya!’ Orang itu berkata, ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini?’
Dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi.”
Lalu Nabi SAW bersabda, “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad 6994, Turmudzi 2850 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
Dahsyatnya La ilaha illa Allah
