Jangan tertukar, bahagia dan nikmat adalah dua hal yang berbeda. Bahagia bersemayam di dalam hati (batiniah), sedangkan nikmat dirasakan oleh panca indra.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, menjelaskan bahwa perbedaan keduanya juga terletak pada durasi.
“Kebahagiaan yang dirasakan di dalam batin umumnya bertahan lebih lama,” ungkap Rahmadi dalam Kajian Ahad Pagi di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Ahad (13/9/2026).
Sebaliknya, kenikmatan bersifat sementara. Contohnya rasa lezat yang ditangkap lidah saat makan; nikmat itu hanya bertahan selama makanan dikunyah dan akan hilang setelahnya.
Begitu pula dengan kenikmatan visual. Hal-hal yang dinikmati mata biasanya tak bertahan lama karena manusia cepat merasa jenuh, terlebih ketika menemukan hal baru yang dianggap lebih menarik.
Oleh karena itu, hubungan rumah tangga tidak boleh hanya diukur dari kenikmatan indrawi, melainkan harus dibangun atas keterikatan batin.
Pakar Hadis UAD ini menegaskan bahwa konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah wajib melibatkan sisi batiniah. Pasangan suami istri tidak bisa hanya mengandalkan aspek fisik semata.
Dalam terminologi bahasa Arab, bahagia disebut sebagai sa’adah. Bagi seorang muslim, kebahagiaan mencakup tiga hal: jiwa yang tenang, hati yang tenteram, dan dada yang lapang.
“Semua itu lahir dari konsistensi berbuat baik serta kedekatan diri kepada Allah,” tuturnya.
Mengutip bagian akhir surah Al-Baqarah ayat 262, Rahmadi menjelaskan tafsir Ibnu Katsir mengenai ketiadaan rasa takut dan sedih dalam hati. Hal tersebut bisa dicapai karena Islam menuntun umatnya untuk senantiasa memelihara prasangka dan harapan baik.
Para ulama pun menegaskan bahwa puncak harapan seorang muslim adalah meraih ampunan Allah Swt. dan kembali ke surga-Nya. (*/tim)
