Seseorang sesaat setelah meninggal dan jenazahnya dikuburkan. Di tengah masyarakat, berbagai mitos muncul tentang hal ini. Namun, jawaban yang sebenarnya ada dalam ajaran agama Islam.
Para ulama menjelaskan kondisi mayit setelah kematian dan usai jasadnya dimakamkan. Saat itu, ia berada dalam alam barzakh hingga sampai waktunya hari akhir.
Allah SWT berfirman:
لَعَلِّىۡۤ اَعۡمَلُ صَالِحًـا فِيۡمَا تَرَكۡتُؕ كَلَّا ؕ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآٮِٕلُهَاؕ وَمِنۡ وَّرَآٮِٕهِمۡ بَرۡزَخٌ اِلٰى يَوۡمِ يُبۡعَثُوۡنَ
“Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan” (QS al-Mu’minun: 100).
Alam barzakh merupakan bagian dari alam akhirat, karena menjadi alam antara dunia dan akhirat. Dinamakan barzakh karena itu merupakan pembatas atau jalan yang memisahkan dua tempat.
Ada lima perkara yang akan dihadapi seseorang, 5 menit setelah kematian. Yang pertama, dimulai sesaat setelah dia dikubur. Jenazah si mayit akan menyatu dengan tanah, sebagai bahan utama penciptaan manusia. Ia pun akan merasa kesepian. Ia akan merasakan kondisi asing dalam kubur. Semua akan menghadapi kondisi demikian, baik Mukmin maupun kafir.
Kemudian, yang kedua dan ketiga, si mayit juga akan menghadapi fitnah kubur dan pertanyaan dua malaikat yang tidak akan luput dirasakan siapapun dari umat manusia atau umat nabi mana pun.
Hal ini akan dimulai sejak langkah para kerabat menjauh dari kubur. Bahkan orang yang meninggal akan mendengarkan gesekan sandal para kerabatnya. Dua malaikat akan bertanya tentang Tuhan Anda, tentang agama Anda, tentang Nabi Anda.
Kemudian, yang keempat dan yang kelima, orang akan menghadapi siksa dan nikmat kubur. Nikmat dan keselamatan di alam kubur adalah bagi yang mampu menjawab pertanyaan dua malaikat dengan baik. Adapun siksa kubur akan ditimpakan bagi mereka yang tidak mampu menjawabnya.
Semua kondisi ini sebenarnya sudah diberi peringatan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya agar tiap Mukmin bisa menghindar dari siksaan. Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah, penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Hasyr ayat 18-20).
Dalam Al Quran surah Ali Imran ayat 145, Allah Swt berfirman, yang artinya, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya.” Dengan demikian, kehidupan dan kematian pun telah ditetapkan oleh-Nya.
Apabila kelahiran selalu dirayakan dengan penuh kebahagiaan, kematian diiringi tangis kesedihan. Mungkin bukan sehari atau dua hari, melainkan berbulan atau bahkan bertahun-tahun.
Jangankan kita manusia biasa. Nabi Muhammad saw sempat menitikkan air mata saat istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid, meninggal dunia. Begitu pula ketika paman terkasih yang selalu melindunginya, Abu Thalib, meninggal saat perjuangan menegakkan Islam masih berat. Baginda Rasul pun sangat bersedih.
Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw, bersedih itu boleh, tetapi sewajarnya saja. Jangan meratapi terus-menerus sehingga semangat hidup hilang dan berputus asa.
Ingatlah, setiap Muslim harus beriman kepada ketetapan Allah untuk setiap makhluk-Nya (qada/qadar). Kekuatan imanlah yang menguatkan kita. Menyadarkan kita bahwa segala yang ada dalam kehidupan dunia ini hanyalah titipan. Segalanya adalah amanah Tuhan, yang kapan saja bila Dia berkehendak, akan pergi dari kita.
Allah berfirman dalam surah an-Nisa ayat 78, artinya, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” Kematian sangatlah menakutkan bagi mereka yang banyak dosa dan senang menunda-nunda bertobat nasuha.
Dalam Al Quran surah al-Jumu’ah ayat 7 dinyatakan, artinya, “Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.”
Namun, bagi orang beriman, kematian sangatlah membahagiakan. Sebab, itulah awal dibukanya pintu untuk bertemu dengan Yang Maha Penyayang. Bagi orang-orang yang ditinggalkan almarhum atau almarhumah, ada banyak hikmah dan hidayah dari-Nya apabila mereka sanggup menangkapnya.
Ketika ikhlas menghiasi jiwa, petunjuk Tuhan akan dengan mudah diterima. Kekuatan jiwa untuk menerima ujian semakin meningkat dan kualitas ibadah akan semakin baik.
Maka dari itu, Rasulullah saw mengajarkan cara cerdas menghadapi kematian. Seorang sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”
Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas (HR Ibnu Majah, Thabrani dan al-Haitsami). (*)
