Si Kancil Akhirnya Puasa di Hutan Madu, Sebuah Analogi Kemenhaj

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Di sebuah hutan baru yang konon sangat kaya, terdapat kawasan bernama “Hutan Madu”. Siapapun bisa menikmati madu di hutan itu. Aturan mainnya sederhana: madu hanya untuk mereka yang antre sabar.

Awalnya, Si Kancil berjalan sangat lurus, jujur, dan menjalankan aturan. Ia sopan, menunduk, dan pura-pura jadi pengamat alam. Ia menyusuri sarang lebah, mencatat jadwal patroli beruang penjaga, dan memetakan celah-celah dahan rapuh.

Setelah peta di kepalanya lengkap, “Kancil Baik” pun menjadi liar. Mulailah aksinya. Ia membuat suara gaduh palsu di sisi utara agar beruang berlari ke sana, sementara ia menyelinap lewat sungai tersembunyi di selatan.

Ia memalsukan jejak kaki, menukar madu murni dengan air gula, dan menikmatinya dengan pesta pora. Hewan lain yang jujur malah bingung mengapa jatah madunya lenyap. Kancil tertawa terbahak, merasa lebih pintar dari hutan itu sendiri. Fabel akhirnya berakhir, realita berbicara.

“Hutan Madu” itu adalah ekosistem penyelenggaraan haji dan umrah di Indonesia. Dan “Si Kancil”? Mereka adalah para calo, travel bodong, hingga mafia tiket yang selama puluhan tahun merasa punya hak veto atas niat suci jemaah haji.

Dulu, saat sistem masih manual dan pengawasan ibarat lampu temaram, para Kancil ini leluasa bermain sulap. Menggelapkan dana pelunasan, merekayasa penerbitan visa, bermain otak atik antrean, hingga menjual “jalur VIP fiktif” dengan harga selangit.

Namun, sayang seribu sayang bagi para Kancil, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tampaknya lelah melihat tingkah mereka. Kemenhaj tidak lagi sekadar menyuruh beruang penjaga untuk berteriak-teriak tanpa hasil. Mereka memasang “Lentera Transparansi” bernama digitalisasi sistem.

Melalui pembaruan sistem terintegrasi dan kewajiban pembayaran cashless, Kemenhaj menutup rapat sungai tersembunyi yang biasa dipakai Kancil menyelinap. Transparansi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang dipampang jelas ibarat papan pengumuman isi sarang lebah, membuat Kancil tidak bisa lagi berdalih “biaya tak terduga” untuk memeras jemaah.

Kini, jemaah bisa memantau status antrean dan pelunasan mereka sendiri lewat gawai. Mau janji-janji manis “jalur cepat”? Silakan cek aplikasi, Kancil. Jangankan madu, jejak kaki palsumu pun ketahuan.

Ditambah lagi, kolaborasi dengan kepolisian dan satgas bertindak sebagai “Pasukan Elang” yang mengudara 24 jam. Razia travel bodong dilakukan tanpa pandang bulu. Izin dicabut, rekening dibekukan, dan beberapa Kancil bahkan harus menikmati nasi penjara. Sungguh tragis, bukan?

Bagi para oknum yang terbiasa menikmati uang jemaah untuk membeli mobil mewah atau liburan ke luar negeri, kini harus menikmati “menu spesial” berupa diet ekstrem nasi ransum di balik jeruji besi.

Keberhasilan Kemenhaj menekan angka penyelewengan haji dan umrah bukanlah sulap, melainkan hasil dari menutup ruang gerak para oknum yang menyeleweng. Dengan mengubah hutan yang gelap menjadi terang benderang, setiap rupiah dan niat suci jemaah kini terlindungi.

Lalu, ke mana perginya Si Kancil yang dulu sombong itu? Konon, ia kini terlihat kurus kering, duduk melamun di tepi hutan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia terpaksa ikut berpuasa. Hutan madu ini ternyata sudah tidak ramah lagi bagi mereka yang berjalan tidak lurus. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search