#Meluruskan Paradigma yang Keliru
Salah satu paradigma yang perlu diluruskan dalam dunia pendidikan ialah anggapan bahwa ketika anak telah diserahkan kepada sekolah, maka tanggung jawab mendidik anak sepenuhnya berada di tangan guru. Orang tua merasa telah menunaikan kewajibannya dengan membayar biaya pendidikan, menyediakan seragam, membeli buku pelajaran, dan mengantarkan anak ke sekolah. Selanjutnya, keberhasilan maupun kegagalan pendidikan anak seolah-olah menjadi tanggung jawab guru dan lembaga pendidikan semata.
Paradigma semacam ini jelas perlu dikoreksi. Sekolah bukanlah tempat untuk memindahkan seluruh tanggung jawab pendidikan dari orang tua kepada guru. Sekolah merupakan mitra orang tua dalam melaksanakan amanah pendidikan anak.
Orang tua adalah penanggung jawab utama pendidikan anak, sedangkan guru merupakan pendidik profesional yang membantu, membimbing, dan mengembangkan potensi anak melalui proses pendidikan yang terencana.
Keduanya memiliki tanggung jawab yang berbeda, tetapi saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.
Pendidikan anak bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan proses membentuk keimanan, akhlak, kepribadian, kecerdasan, kemandirian, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, pendidikan tidak mungkin berhasil apabila keluarga menyerahkan seluruh urusan pendidikan kepada sekolah, sementara orang tua melepaskan diri dari tanggung jawab pembinaan anak di rumah.
1. Al-Qur’an Menegaskan Tanggung Jawab Orang Tua
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).
Ayat ini memberikan landasan teologis bahwa menjaga dan membina keluarga merupakan kewajiban yang melekat pada orang tua. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi juga pembinaan keimanan, ibadah, akhlak, dan perilaku anggota keluarga.
Dalam perspektif pendidikan Islam, orang tua tidak cukup hanya memastikan anak memperoleh pendidikan formal. Mereka juga berkewajiban menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung tumbuhnya kepribadian Islami.
Anak perlu melihat keteladanan orang tuanya dalam melaksanakan salat, berkata jujur, menghormati orang lain, menepati janji, bekerja keras, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut tidak akan tertanam secara mendalam hanya melalui pelajaran di kelas apabila anak menyaksikan perilaku yang bertentangan di rumah.
Dengan demikian, pendidikan keluarga bukan sekadar pelengkap pendidikan sekolah. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama tempat anak mengenal nilai, membangun kebiasaan, dan belajar memahami kehidupan.
