Ada satu olahraga modern yang makin digemari manusia abad digital: bukan lari, bukan renang, apalagi push-up. Namanya stalking (menguntit, memata-matai, ngepoin ). Gerakannya sederhana: rebahan, buka ponsel, geser layar, lalu masuk ke kehidupan orang lain seolah kita auditor tak resmi dari takdir mereka.
Ironisnya, olahraga ini tidak membakar kalori—yang terbakar justru kewarasan. Lucu memang. Kadang manusia lebih hafal jadwal liburan “public figure” favoritnya daripada jadwal sholatnya sendiri. Lebih tahu menu sarapan tokoh terkenal daripada isi kulkas rumahnya sendiri. Seolah hidup orang lain adalah serial Netflix yang wajib diikuti setiap episode.
Padahal, semakin sering kita mengintip jendela kehidupan orang lain, semakin lupa kita membersihkan kaca rumah sendiri. Media sosial adalah panggung sandiwara terbesar dalam sejarah manusia. Di sana semua tampak bahagia, kaya, romantis, sukses, glowing, dan seakan hidup tanpa cicilan. Kita yang melihat sering lupa: itu trailer, bukan film utuh. Tapi anehnya, banyak orang membandingkan behind the scenes hidupnya dengan highlight hidup orang lain.
Lalu lahirlah penyakit kuno dengan kemasan baru: iri hati premium. Dari sini, otak mulai bekerja lembur tanpa gaji. “Kok dia bisa ya?” “Kenapa hidupku begini?” “Kok hidupnya selalu tampak sempurna?”. Pertanyaan-pertanyaan ini seperti rayap—kecil, tapi kalau dibiarkan bisa merobohkan bangunan harga diri.
Dan rupanya, Al-Qur’an sudah lama mengingatkan penyakit ini. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah berfirman: “…dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (wala tajassasu)…” Sebuah peringatan yang terasa sangat relevan di era ketika satu jempol bisa menjadi intelijen pribadi. Stalking itu seperti minum air laut: makin diminum, makin haus. Awalnya cuma lihat profil. Lalu scroll tiga bulan ke bawah. Lalu enam bulan. Lalu sampai unggahan lama tahun 2018 ketika idolanya masih pakai filter kupu-kupu. Ini bukan kepo lagi, ini arkeologi digital.
Dalam filsafat, manusia diajarkan mengenal diri sendiri. Socrates bilang, Know thyself. Tapi zaman sekarang berubah jadi, Know thy idol, thy rival, and everybody’s business. Celakanya, semakin sibuk mengamati hidup orang lain, semakin kosong hidup sendiri. Waktu habis, energi bocor, pikiran kusut. Kita menjadi penonton setia dalam bioskop kehidupan orang lain, tapi lupa menulis skenario hidup sendiri.
Dalam Islam, ada istilah tajassus—artinya mencari-cari aib atau urusan orang lain. Larangan ini bukan tanpa alasan. Sebab sering kali rasa ingin tahu yang tak terkendali adalah pintu masuk prasangka, dosa, dan kegelisahan. Bahkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan. Jangan saling mencari-cari kesalahan, jangan saling memata-matai…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sederhananya begini: tidak semua yang bisa dilihat itu perlu dilihat. Tidak semua yang bisa dicari itu layak dicari. Terutama soal public figure. Tokoh publik itu seperti buku yang hanya memperlihatkan sampulnya. Kita melihat halaman depan, tapi tak pernah benar-benar tahu isi seluruh babnya. Hidup bukan museum sensasi. Apa yang tampak bukan selalu kenyataan utuh. Al-Qur’an juga memberi obat untuk kegelisahan ini dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Sebab sering kali yang kita cari di profil orang lain sebenarnya bukan informasi—melainkan validasi atas kekosongan dalam diri.
Solusinya sederhana: unfollow, mute, batasi waktu layar, dan sibukkan diri dengan kehidupan nyata. Karena hidup sejati bukan yang ada di story 24 jam, tapi yang kita bangun setiap hari. Pada akhirnya, kebahagiaan bukan datang dari tahu apa yang orang lain lakukan, tapi dari tahu apa yang harus kita lakukan. Sebab orang bijak memperbaiki hidupnya. Orang sibuk memperhatikan hidup orang lain. Dan orang yang terlalu sibuk stalking, biasanya lupa bahwa dirinya sendiri juga sedang ditonton Tuhan.
Pesan moralnya sederhana :
Kalau hidupmu belum rapi, jangan jadi satpam kehidupan orang lain(*)
