Tak Tahu Diri: Saat Ambisi Mengalahkan Hati Nurani

Tak Tahu Diri: Saat Ambisi Mengalahkan Hati Nurani
*) Oleh : Helmi Rohmanto
Kamad MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Laren Lamongan
www.majelistabligh.id -

Ambisi merupakan anugerah yang Allah Swt tanamkan dalam diri manusia. Dengan ambisi, seseorang terdorong untuk belajar, bekerja keras, dan menghasilkan karya terbaik.

Namun, ambisi akan berubah menjadi petaka ketika tidak lagi dikendalikan oleh hati nurani dan nilai-nilai agama. Pada saat itulah seseorang perlahan kehilangan rasa tahu diri. Ia tidak lagi mampu membedakan mana yang menjadi haknya dan mana yang merupakan hak orang lain. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana keinginannya tercapai, meskipun harus mengorbankan kejujuran, persaudaraan, dan akhlak.

Allah Swt. telah mengingatkan manusia agar tidak dikuasai oleh hawa nafsu. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

«أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً ۖ فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ»

“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, serta Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23).»

Ayat ini menjadi peringatan bahwa ketika hawa nafsu dan ambisi ditempatkan di atas petunjuk Allah, seseorang akan kehilangan arah. Ia merasa semua keinginannya harus dipenuhi, meskipun harus melanggar batas-batas yang telah ditetapkan.

Fenomena seperti ini tidak sulit ditemukan. Ada orang yang mengaku sebagai pelaku utama atas keberhasilan sebuah tim, padahal banyak tangan yang bekerja di baliknya. Ada yang mengejar jabatan dengan cara menjatuhkan rekan sendiri. Ada pula yang lupa kepada orang-orang yang dahulu membimbing dan membantunya ketika masih berada di bawah. Semua itu berawal dari satu penyakit hati: merasa diri paling layak, paling berjasa, dan paling berhak.

Padahal Rasulullah saw. mengingatkan bahwa kesombongan adalah penyakit yang sangat berbahaya. Beliau bersabda:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim).»

Kesombongan sering kali lahir dari ambisi yang tidak terkendali. Ketika seseorang merasa lebih hebat daripada orang lain, ia mulai kehilangan kemampuan untuk menghargai jasa, menerima nasihat, bahkan mengakui kesalahannya. Ia menjadi pribadi yang sulit bersyukur dan enggan mengoreksi diri.

Lebih jauh lagi, Allah Swt. melarang manusia berlaku sombong dan membanggakan diri. Firman-Nya:

«وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ»

Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18).»

Ayat ini mengajarkan bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang, ia tetap harus menjaga kerendahan hati. Jabatan, kekayaan, ilmu, maupun popularitas hanyalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.

Dalam kehidupan pendidikan, organisasi, maupun dunia kerja, penyakit tak tahu diri sering muncul ketika seseorang lebih sibuk mengejar pengakuan daripada memberikan manfaat. Prestasi bukan lagi menjadi sarana untuk mengabdi, melainkan alat untuk memperoleh pujian. Padahal, keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari seberapa tinggi posisi yang diraih, tetapi juga dari seberapa bersih cara mencapainya.

Rasulullah saw. juga bersabda:

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).»

Hadis ini mengingatkan bahwa setiap perjuangan harus dilandasi niat yang benar. Jika ambisi hanya bertujuan memperoleh kedudukan, penghormatan, atau keuntungan pribadi, maka nilai ibadah dan keberkahannya akan berkurang. Sebaliknya, apabila ambisi diarahkan untuk memberi manfaat kepada sesama dan mencari rida Allah, maka setiap langkah akan bernilai ibadah.

Hati nurani sejatinya adalah cahaya yang Allah titipkan dalam diri manusia. Ia akan selalu mengingatkan ketika kita mulai melampaui batas. Namun, jika suara hati terus-menerus diabaikan, ia akan semakin lemah hingga akhirnya seseorang tidak lagi merasa bersalah saat menyakiti orang lain. Inilah awal dari hilangnya rasa tahu diri.

Karena itu, setiap Muslim perlu terus melakukan muhasabah. Jangan sampai ambisi mengalahkan kejujuran, jabatan mengalahkan amanah, dan pujian manusia mengalahkan rida Allah. Sebab, kemuliaan seorang hamba tidak ditentukan oleh seberapa tinggi ia berdiri di hadapan manusia, melainkan oleh seberapa mulia akhlaknya di hadapan Allah Swt.

Tahu diri bukanlah tanda kelemahan. Tahu diri adalah cerminan iman dan kedewasaan. Orang yang tahu diri akan tetap rendah hati ketika berhasil, tetap menghargai orang lain ketika berprestasi, dan tetap menjaga hati nuraninya ketika kesempatan untuk berbuat curang terbuka lebar. Sebab, ambisi yang dipandu oleh iman akan melahirkan keberhasilan yang penuh keberkahan, sedangkan ambisi yang mengalahkan hati nurani hanya akan meninggalkan penyesalan.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Search