Jumah mubarak, Jadilah muslim yang punya akhlak mulia”
Dalam budaya Jawa, kita mengenal istilah tepo sliro. Artinya sederhana tapi dalam :
mampu menempatkan diri, memahami perasaan orang lain, dan menahan diri agar tidak melukai.
Islam sangat menjunjung tinggi nilai ini.
Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari Muslim)
Tepo sliro mengajarkan kita untuk bertanya sebelum berbicara dan bertindak:
Kalau aku di posisi dia, bagaimana perasaanku ?
Allah Wa Ta’ala berfirman:
“Dan katakanlah kepada manusia perkataan yang baik.”
(QS. Al-Baqarah: 83)
Banyak konflik, pertengkaran, bahkan permusuhan terjadi bukan karena masalah besar, tetapi karena hilangnya tepo sliro:
* Bicara tanpa empati
* Menyindir tanpa peduli luka
* Merasa benar sendiri
Padahal menjaga perasaan orang lain adalah bagian dari akhlak mulia.
Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah teladan tepo sliro. Beliau lembut dalam kata, halus dalam sikap, dan selalu mempertimbangkan kondisi orang yang dihadapi, baik yang miskin, lemah, maupun yang berbuat salah.
Tepo sliro bukan berarti takut berkata benar.
Bukan pula membenarkan yang salah.
Tetapi menyampaikan kebenaran dengan cara yang beradab.
Jika hari ini kita ingin hidup damai :
* Mulailah dari lisan yang dijaga
* Sikap yang tidak menyakiti
* Hati yang lapang memaafkan.
Karena orang yang paling kuat bukan yang paling keras, tetapi yang mampu mengendalikan diri.
Semoga Allah Wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang berakhlak mulia, bertepo sliro dalam ucapan dan perbuatan, serta membawa ketenangan bagi sekitar kita.
Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad, Wa ‘ala Aali Sayyidina Muhammad.
