Manusia memiliki daya nalar yang tinggi dan kemampuan berpikir kritis yang membedakannya dari makhluk lain. Dengan akal itulah manusia mampu membaca tanda-tanda zaman, menimbang manfaat dan mudarat, bahkan merancang masa depan yang belum tampak di hadapannya.
Ketajaman akal menjadikan manusia sanggup mengembangkan ilmu, membangun peradaban, dan memperhitungkan akibat dari setiap keputusan secara rinci. Namun, sejarah keagamaan menunjukkan sebuah ironi besar: ketika kebenaran ilahi datang membawa bimbingan, justru banyak manusia kehilangan kejernihan berpikir.
Setan tidak selalu menyesatkan manusia melalui kebodohan, tetapi sering kali melalui kesombongan, pembenaran diri, dan kelekatan pada kekuasaan, tradisi, serta kepentingan duniawi. Karena itu, orang yang cerdas pun dapat tergelincir bila akalnya tidak dibimbing oleh kerendahan hati di hadapan Allah.
Nalar Tajam
Apa yang dialami para nabi dan rasul menjadi bukti yang sangat jelas. Mereka datang bukan kepada masyarakat yang sepenuhnya bodoh, melainkan kepada kaum yang memiliki pengalaman hidup, kemampuan menimbang realitas, dan kecakapan membaca perubahan zaman. Namun ketika seruan tauhid disampaikan, ketajaman akal itu seakan redup.
Mereka dapat memahami perputaran matahari dan bulan, menyaksikan kokohnya langit dan bumi, serta menikmati limpahan rezeki dari Allah, tetapi tetap gagal menarik kesimpulan paling mendasar: bahwa hanya Allah yang layak disembah. Di situlah tipu daya setan bekerja, yaitu menghias kebatilan agar tampak masuk akal dan menjadikan kesesatan terasa sebagai kewajaran. Al-Qur’an menarasikan hal iatu sebagaimana firman-Nya :
وَعَا دًا وَّثَمُوْدَا۟ وَقَدْ تَّبَيَّنَ لَـكُمْ مِّنْ مَّسٰكِنِهِمْ ۗ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَا لَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَكَا نُوْا مُسْتَـبْصِرِيْنَ
Artinya :
“juga (ingatlah) kaum ‘Ad dan Samud, sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam,” (QS. Al-‘Ankabut : 38)
Ayat ini sangat menggugah karena menegaskan bahwa kaum ‘Ad dan Samud bukanlah masyarakat yang kehilangan kemampuan berpikir. Mereka adalah orang-orang yang mustabshirin, berpandangan tajam. Mereka memiliki kecakapan membaca keadaan, membangun kehidupan, dan merespons tantangan zaman dengan keuletan. Akan tetapi, kecerdasan yang tidak tunduk kepada petunjuk wahyu dapat berubah menjadi alat pembenaran diri.
Setan tidak menghapus kemampuan intelektual mereka, tetapi membelokkan arah penggunaannya. Akal yang semestinya dipakai untuk mencari kebenaran justru digunakan untuk mempertahankan kesombongan dan menolak nasihat para rasul.
Kisah dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam memperlihatkan hal itu. Beliau berdakwah dengan sabar, siang dan malam, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, tetapi para pembesar kaumnya justru mengejek dan merendahkan pengikut beliau yang lemah. Mereka menilai dakwah berdasarkan ukuran status sosial, bukan berdasarkan kebenaran.
Demikian pula Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang dengan sangat kritis membongkar kelemahan berhala-berhala kaumnya. Logika Nabi Ibrahim sangat kuat: bagaimana mungkin sesuatu yang dibuat tangan manusia lalu dianggap sebagai tuhan? Namun Namrud dan para elite zamannya tidak tunduk kepada argumentasi itu, sebab yang dipertahankan bukan kebenaran, melainkan simbol kuasa dan warisan tradisi.
Hal yang sama tampak pada Fir’aun ketika menghadapi dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam. Fir’aun bukan sosok tanpa kecerdasan; ia pemimpin politik yang piawai mengendalikan massa dan membaca ancaman kekuasaan. Akan tetapi, justru karena kecakapan itulah ia memilih manipulasi. Ia menuduh Musa sebagai ancaman, membangun propaganda, lalu memalingkan masyarakat dari pesan tauhid. Akal kritisnya padam bukan karena ia tidak mengerti, melainkan karena hatinya menolak tunduk.
Begitu pula para pembesar Quraisy saat menghadapi Nabi Muhammad saw. Mereka dikenal fasih, tangguh berdagang, lihai berdiplomasi, dan peka terhadap perubahan sosial. Namun ketika Al-Qur’an datang mengguncang struktur keyakinan mereka, banyak di antara mereka memilih penolakan. Kecerdasan mereka tidak hilang, tetapi dibajak oleh gengsi, fanatisme nenek moyang, dan ketakutan kehilangan pengaruh.
Tanda Kekuasaan Allah
Kasih sayang Allah senantiasa dilimpahkan para hamba-hamba-Nya. Untuk mengenal dan mendekatkan-Nya, Allah mengutus manusia pilihan untuk menyampaikan pesan-pean sacral, para utusan Allah dengan keramahan dan kasih sayang membimbing kaumnya, Dengan sabar membacakan ayat-ayat Allah. semua itu mengarah dan mnegajak kaumnya mengenal Allah dan menymbah-Nya dengan benar. Semua tanda-tanda kekuasan Allah hanya dikenali oleh mereka yang menggunakan akal dengan tepat. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an abagaimana firman-Nya :
وَلَقَدْ تَّرَكْنَا مِنْهَاۤ اٰيَةًۢ بَيِّنَةً لِّـقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
“Dan sungguh, tentang itu telah Kami tinggalkan suatu tanda yang nyata bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-‘Ankabut : 35)
Allah tidak membiarkan manusia tanpa peringatan. Jejak kehancuran umat-umat terdahulu ditinggalkan sebagai ayat bayyinah, tanda yang nyata bagi orang-orang yang menggunakan akal. Artinya, agama tidak memusuhi nalar, justru memanggil nalar untuk bekerja secara jernih dan rendah hati. Tanda-tanda kekuasaan Allah hadir di alam semesta, dalam sejarah umat terdahulu, juga dalam pengalaman hidup manusia sehari-hari. Akan tetapi, tanda hanya bermanfaat bagi orang yang mau berpikir dengan hati yang bersih, bukan bagi mereka yang telah dikuasai hawa nafsu.
Pelajaran penting dari semua kisah ini adalah bahwa bahaya terbesar bagi manusia bukan sekadar kurang cerdas, melainkan salah arah dalam menggunakan kecerdasan. Ketika akal dipisahkan dari iman, ia mudah diperalat setan untuk menghias kebatilan. Sebaliknya, ketika akal disinari tauhid, manusia akan mampu membaca realitas secara benar, membedakan hak dan batil, serta tidak mudah tertipu oleh gemerlap kuasa, harta, dan berhala-berhala modern. Karena itu, menjaga akal kritis tidak cukup dengan pendidikan intelektual semata, tetapi juga membutuhkan kebeningan jiwa, kejujuran moral, dan keberanian menerima kebenaran meskipun menggugat kenyamanan diri. Di situlah letak kemenangan manusia atas tipu daya setan.
Surabaya, 14 April 2026
