Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fajar Rachmadhani, mengajak umat Islam untuk merefleksikan kembali hakikat ketakwaan yang sesungguhnya. Menurutnya, parameter takwa yang paling berat adalah konsistensi seseorang dalam menjaga keimanan saat berada dalam kesendirian (khawat).
Pesan mendalam ini disampaikan Fajar saat mengisi Pengajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (12/7/2026). Dalam kajiannya, ia membedah hadis ke-18 dalam kitab Arba’in An-Nawawi riwayat Mu’adz bin Jabal, yang memuat tiga pesan utama Rasulullah SAW: bertakwa di mana pun berada, menghapus keburukan dengan kebaikan, dan bergaul dengan akhlak mulia.
“Manusia mungkin bisa tertipu oleh pencitraan kita di media sosial atau ruang publik, tetapi Allah mengetahui seluruh isi hati. Ujian ketakwaan tersulit adalah ketika kita mampu tetap taat dalam kesendirian,” ungkap Fajar.
Filosofi Takwa dan Tantangan Era Digital
Mengutip para sahabat Nabi, Fajar menjelaskan ragam dimensi takwa. Umar bin Khattab mengibaratkan takwa seperti melangkah penuh hati-hati di jalan gelap yang penuh duri agar tidak terjerumus pada perkara haram dan syubhat.
Sementara Ali bin Abi Thalib mendefinisikannya sebagai rasa takut kepada Allah yang justru mendekatkan hamba kepada-Nya, dan Ibnu Umar menyebutnya sebagai sikap rendah hati yang tidak merasa lebih saleh dari orang lain.
Fajar juga menyoroti tantangan keikhlasan di era digital. Menurutnya, media sosial kerap menjebak seseorang untuk beramal demi pujian dan pengakuan.
“Orang yang ikhlas memiliki kualitas amal yang sama, baik saat dipuji maupun dicela, serta saat di hadapan orang banyak maupun sendirian. Target utama hidupnya hanyalah ridha Allah,” tambahnya.
Ia pun mengingatkan bahaya dzunubul khalawat (dosa saat sendirian) yang menjadi salah satu pemicu suul khatimah. Kendati demikian, ia meminta umat tidak berputus asa dari ampunan Allah, asalkan tidak menjadi mujahir—orang yang terang-terangan berbuat maksiat atau bangga memamerkan dosanya.
Menghapus Dosa dengan Kebaikan
Menelaah bagian kedua hadis, Fajar menjelaskan bahwa Rasulullah saw mengajarkan umatnya untuk segera mengiringi dosa kecil dengan amal saleh agar gugur. Namun, aturan berbeda berlaku untuk dosa besar dan dosa sosial.
“Dosa besar membutuhkan tobat nasuha kepada Allah. Sementara jika berkaitan dengan hak sesama manusia—seperti menzalimi, menipu, atau korupsi—maka syarat mutlaknya adalah mengembalikan hak tersebut dan meminta maaf secara langsung,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar jemaah tidak menjadi golongan orang yang bangkrut (muflis) di akhirat, yaitu mereka yang datang membawa pahala salat dan puasa yang melimpah, namun habis karena harus ditransfer kepada orang-orang yang pernah didzaliminya di dunia.
Pada sesi akhir tausiyah, Fajar menekankan pentingnya pesan ketiga Rasulullah, yaitu berakhlak mulia. Ia menilai, realitas sosial hari ini menunjukkan bahwa dunia tidak kekurangan orang pintar, melainkan krisis figur yang berilmu sekaligus berakhlak.
Banyaknya kasus hukum, penyalahgunaan jabatan, hingga korupsi, menurut Fajar, bukan karena pelakunya bodoh, melainkan karena absennya moralitas dalam ilmu yang mereka miliki. (*/tim)
