Ada Apa dengan Hati yang Resah?

Ada Apa dengan Hati yang Resah?
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I
Majelis Tabligh PDM Banjarnegara, Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

Setiap manusia pasti pernah mengalami fase di mana hatinya merasa sesak, gelisah, dan tak tenang tanpa alasan yang jelas, atau mungkin karena himpitan persoalan hidup yang bertubi-tubi. Dalam psikologi modern, ini sering dikaitkan dengan kecemasan, namun dalam kacamata spiritual, keresahan hati adalah sinyal dari jiwa yang sedang merindukan “nutrisi” aslinya.

Keresahan bukanlah tanda kelemahan iman semata, melainkan sebuah alarm agar seorang hamba kembali menoleh kepada Sang Pencipta. Tanpa keresahan, manusia mungkin akan lupa diri dan menjauh dari dermaga ketenangan yang hakiki.

Al-Qur’an sebagai Syifa (obat) telah mendiagnosis bahwa ketenangan hati tidak terletak pada melimpahnya materi, melainkan pada kedekatan dengan Allah. Hal ini sebagaimana dinayatakan sendiri oleh Allah SWT daam firman-Nya:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ayat ini menegaskan bahwa struktur hati manusia diciptakan dengan “pengunci” yang hanya bisa dibuka oleh kunci bernama zikir. Ketika hati diisi dengan ambisi duniawi yang tak terbatas, ia akan mengalami malnutrisi spiritual yang bermanifestasi sebagai keresahan.

Allah mengingatkan watak dunia yang melelahkan tiada berkesudahan sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).

Keresahan sering muncul karena kita mengharapkan kesempurnaan di tempat yang sifatnya tidak sempurna (dunia). Memahami bahwa hidup adalah rangkaian ujian adalah langkah pertama menuju ketenangan.

Rasulullah SAW sebagai teladan utama juga mengalami saat-saat berat (seperti Amul Huzni atau tahun kesedihan). Beliau memberikan panduan konkret melalui lisan dan perbuatannya.

Ketahuilah bahwa hati memiliki sensor alami terhadap kebenaran dan kesalahan. Rasulullah SAW sendiri bersabda:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang mengganjal (meresahkan) di dalam dadamu dan engkau benci jika hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR. Muslim).

Banyak keresahan bersumber dari tindakan kita yang tidak selaras dengan nurani. Menyelesaikan urusan dengan manusia dan bertaubat kepada Allah adalah jalan keluar dari kegelisahan jenis ini.

Ketika hati didera kegalauan, Rasulullah mengajarkan doa yang sangat masyhur:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, lemah kemauan dan kemalasan, sifat kikir dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” (HR. Bukhari).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan, beliau menjelaskan bahwa hati manusia ibarat wadah. Jika ia penuh dengan cinta dunia, maka ketenangan tidak punya tempat untuk singgah. Beliau berpendapat:

“Di dalam hati terdapat sebuah koyakan yang tidak dapat dijahit kecuali dengan menghadap Allah, dan di dalamnya terdapat sebuah kesepian yang tidak dapat diobati kecuali dengan bersanding dengan-Nya.”

Lain dari itu, Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern, menekankan pentingnya qana’ah (merasa cukup). Beliau berpendapat bahwa keresahan hati modern banyak disebabkan oleh “penyakit kurang”. Bukan kurang secara fisik, tapi kurangnya rasa syukur. Ketenangan hati menurut Hamka bukan berarti hilangnya masalah, tapi kemampuan jiwa untuk tetap tegak di tengah badai karena bersandar pada Yang Maha Kuat.

Untuk mengatasi hati yang resah, kita perlu memetakan penyebabnya terlebih dahulu:

  1. Saat ada dosa yang belum tertebus maka akan menghasilkan beban bawah sadar yang menekan jiwa.
  2. Kekhawatiran masa depan memunculkan rasa ketakutan akan hal yang belum terjadi.
  3. Penyesalan terhadap masa lalu menyebabkan terjebak pada cara berpikir “seandainya”.
  4. Kurangnya interaksi dengan Al-Qur’an sehingga hati menjadi kering dari kalam Ilahi yang menjadikan mudah rapuh dan retak.

Setelah mengetahui akar permasalahan keresahan hati tersebut, ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan sebagai terapi agar hati kembali tenang.

  1. Memperbaiki Kualitas Salat

Salat adalah media “istirahat” bagi mukmin. Rasulullah pernah berkata kepada Bilal, “Istirahatkanlah kami dengan salat, wahai Bilal.” Jika salat kita belum mendatangkan ketenangan, mungkin ada yang salah dengan kekhusyukan kita.

  1. Melazimkan Istighfar

Istighfar bukan hanya memohon ampun, tapi juga pembuka sumbatan-sumbatan rezeki dan ketenangan. مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا

“Barangsiapa melazimkan istighfar, Allah akan jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari setiap keresahan.” (HR. Abu Dawud).

  1. Berdamai dengan Takdir

Keresahan sering kali adalah bentuk “perlawanan” hati terhadap ketetapan Allah. Mengamalkan rukun iman keenam (Qada dan Qadar) secara kaffah akan melahirkan jiwa yang tenang (Mutma’innah).

Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa hati berada di antara dua jemari Allah SWT. Dia-lah yang membolak-balikkannya. Saat hati resah, jangan berlari menuju makhluk yang sama-sama lemah, namun berlarilah menuju Sang Pemilik Hati.

Jadikan keresahanmu sebagai sujud yang paling panjang, dan jadikan air matamu sebagai pembersih noda-noda yang selama ini menghalangi cahaya ketenangan masuk ke dalam relung jiwamu. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search