Adab di Atas Ilmu: Ketika Kepintaran Menjadi Cahaya Karena Akhlak

Adab di Atas Ilmu: Ketika Kepintaran Menjadi Cahaya Karena Akhlak
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon Banten.
www.majelistabligh.id -

Dalam kehidupan modern hari ini, manusia semakin mudah memperoleh ilmu. Buku tersedia di mana-mana, ceramah dapat diakses melalui gawai, bahkan kecerdasan buatan mampu menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik. Namun di tengah melimpahnya pengetahuan itu, kita justru sering menyaksikan satu hal yang perlahan menghilang: adab.

Kita menemukan orang yang cerdas tetapi mudah merendahkan orang lain. Ada yang tinggi pendidikannya namun kasar lisannya. Ada pula yang luas ilmunya, tetapi sempit hatinya. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa ilmu saja ternyata belum cukup. Dalam tradisi Islam, ilmu harus berjalan bersama adab. Keduanya ibarat ruh dan jasad yang tidak dapat dipisahkan.

Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan pentingnya akhlak sebelum ilmu. Bahkan dikenal sebuah ungkapan bijak:

“Al-adabu fauqol ‘ilmi”
Adab lebih tinggi daripada ilmu.

Ungkapan ini bukan berarti ilmu tidak penting, melainkan menegaskan bahwa ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah dan keberkahannya. Ilmu adalah cahaya, sedangkan adab adalah penuntun agar cahaya itu tidak membakar diri sendiri maupun orang lain.

Dalam Islam, orang yang beradab sejatinya sedang menunjukkan kedalaman ilmunya. Sebaliknya, orang yang berilmu belum tentu memiliki adab yang baik. Karena itu, para ulama terdahulu lebih dahulu mendidik akhlak murid-muridnya sebelum mengajarkan banyak pengetahuan.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy:

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Nasihat ini terasa sangat relevan di zaman sekarang. Banyak orang berlomba menjadi pintar, tetapi sedikit yang berusaha menjadi bijak. Padahal, ilmu yang tidak dibarengi adab dapat melahirkan kesombongan. Seseorang merasa paling benar, mudah menyalahkan orang lain, bahkan menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari pujian dan kedudukan.

Di sinilah adab menjadi fondasi utama. Adab mengajarkan kerendahan hati, kesabaran, penghormatan kepada guru, kasih sayang kepada sesama, serta keikhlasan dalam belajar. Adab juga menjaga seseorang agar tidak menyalahgunakan ilmunya untuk kepentingan yang merusak.

Ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa akar. Mungkin tampak besar dan menjulang, tetapi rapuh ketika diterpa angin. Sebaliknya, ilmu yang dibangun di atas adab akan tumbuh kokoh dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Dalam proses menuntut ilmu, Islam mengajarkan banyak bentuk adab yang mulia. Di antaranya adalah meluruskan niat karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bersikap tawadhu’, menghormati guru, bersungguh-sungguh dalam belajar, serta mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Sebab hakikat ilmu bukan hanya untuk diketahui, melainkan untuk diamalkan dan menghadirkan kebaikan.

Keberkahan ilmu sering kali tidak diukur dari seberapa banyak hafalan atau gelar yang dimiliki seseorang, tetapi dari seberapa besar manfaat ilmu itu bagi kehidupan. Ada orang yang ilmunya sederhana, namun karena adabnya baik, nasihatnya menenangkan hati banyak orang. Sebaliknya, ada yang ilmunya luas, tetapi perkataannya justru melukai dan memecah belah.

Di era media sosial saat ini, adab dalam berilmu menjadi semakin penting. Banyak perdebatan terjadi bukan karena kurangnya ilmu, melainkan karena hilangnya akhlak dalam menyampaikan pendapat. Orang mudah mencaci, menghina, dan merasa paling benar. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kelembutan dan akhlak mulia adalah bagian penting dari keimanan.

Islam tidak hanya melahirkan generasi yang pintar berpikir, tetapi juga mulia dalam bersikap. Sebab tujuan akhir ilmu dalam Islam bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan pembentukan manusia yang beriman, bijaksana, dan berakhlak luhur.

Karena itu, mendidik adab sesungguhnya sama pentingnya dengan mendidik kecerdasan. Orang tua, guru, dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai akhlak sejak dini. Sebab peradaban besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang pandai, tetapi oleh manusia-manusia yang memiliki hati dan adab.

Pada akhirnya, ilmu akan mengangkat derajat seseorang, tetapi adablah yang membuatnya dihormati. Ilmu membuat manusia mampu berbicara, sedangkan adab membuat orang lain mau mendengarkan. Ilmu memberi pengetahuan, sementara adab menghadirkan kemuliaan.

Maka, jangan hanya sibuk mengejar kepintaran. Rawat pula akhlak dan adab dalam setiap langkah kehidupan. Sebab ilmu yang disertai adab akan menjadi cahaya yang menerangi dunia dan membawa keselamatan hingga akhirat. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search