Amal yang Sia Sia

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Amal menjadi sia-sia dan tertolak jika tidak memenuhi dua syarat utama dalam Islam:

  1. Ikhlas (karena Allah) dan sesuai syariat (contohnya tata cara salat). Ibadah yang tidak ada tuntunannya atau tercampur dengan pamer (riya) tidak akan diterima oleh Allah Swt.
  2. Sesuai tuntunan. Dari Ummul Mukminin, Ummu Abdillah, Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هٰذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal darinya), maka dia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.”

Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil yang syar’i, yaitu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As Sunnah, maka tertolaklah amalannya. Oleh karena itu, amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam merupakan amalan yang sangat buruk dan merupakan salah satu dosa besar.

Sesuai Tuntunan (Ittiba) tata cara ibadah harus mencontoh Nabi Muhammad saw. Pelanggaran syariat terjadi jika seseorang menambah, mengurangi, atau membuat aturan ibadah sendiri yang tidak ada dasarnya. Rasulullah saw bersabda:

Betapa banyak manusia yang merasa dirinya telah beramal terbaik selama hidupnya di dunia. Mereka rajin sedekah, tekun salat, berkali-kali haji dan umrah, aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, bahkan merasa telah banyak berjuang untuk Islam. Namun ternyata seluruh amal itu menjadi sia-sia di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat. Penyebabnya adalah karena mereka beramal tidak sesuai syariat, tanpa petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Inilah kerugian terbesar dalam kehidupan manusia; merasa benar, merasa dekat kepada Allah, tetapi ternyata tersesat dari jalan petunjuk.

Allah Ta’ala mengingatkan dengan peringatan yang sangat keras:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ۝ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang sia-sia amal usahanya di dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103–104)

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Demikian pula Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia beramal shalih dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Imam Fudhail bin Iyadh menjelaskan makna ayat ini:

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ، فَإِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا

“Amal itu harus ikhlas dan benar. Jika ikhlas tetapi tidak benar maka tidak diterima. Jika benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima. Amal baru diterima apabila ikhlas dan benar.”

Inilah bahaya besar beragama hanya berdasarkan perasaan, tradisi, mimpi, adat, logika pribadi, atau sekadar mengikuti mayoritas manusia tanpa ilmu.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:

أَيْ: لَا تَغْتَرَّ بِالْكَثْرَةِ، فَإِنَّ الْحَقَّ قَدْ يَكُونُ مَعَ الْأَقَلِّينَ

“Jangan tertipu dengan banyaknya pengikut, karena kebenaran terkadang bersama kelompok yang sedikit.”

Betapa banyak orang tertipu oleh semangat ibadahnya. Mereka menangis dalam ibadah, berzikir berjam-jam, mengeluarkan banyak harta, tetapi amal itu tidak dibangun di atas ilmu dan petunjuk Rasulullah saw.

Sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud berkata:

كَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.”

Sebab niat baik saja tidak cukup. Harus dibimbing dengan ilmu dan Sunnah.

Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Ilmu harus didahulukan sebelum berkata dan beramal.”

Oleh sebab itu, para ulama salaf sangat takut beramal tanpa ilmu. Mereka khawatir termasuk orang-orang yang disebut dalam Surat Al-Kahfi tadi: merasa paling baik amalnya padahal amal itu hancur di sisi Allah.

Maka kewajiban seorang Muslim bukan sekadar semangat beramal, tetapi memastikan:

  • apakah amal itu memiliki dalil?
  • apakah sesuai Sunnah?
  • apakah dicontohkan Rasulullah saw?
  • apakah dipahami para sahabat?
  • apakah dilakukan dengan ikhlas?

Karena agama ini bukan dibangun di atas perasaan, tetapi di atas wahyu.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa: 59)

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas dan ittiba’ kepada Sunnah Rasulullah saw, serta melindungi kita dari amal-amal yang tampak besar di dunia tetapi hancur pada hari kiamat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search