Di zaman yang serba cepat ini, belajar agama tidak lagi identik dengan duduk bersila di depan guru atau membuka kitab tebal berlembar-lembar. Kini, cukup dengan satu sentuhan jari, ribuan konten keislaman bermunculan di layar. Ceramah, kutipan ayat, potongan video dakwah, hingga motivasi islami hadir silih berganti tanpa henti. Namun, di balik kemudahan itu, muncul satu pertanyaan penting: apakah kita benar-benar belajar, atau hanya sekadar lewat?
Fenomena “scroll tanpa batas” telah mengubah cara manusia menerima ilmu, termasuk ilmu agama. Informasi datang begitu cepat, tetapi sering kali dangkal. Kita merasa telah memahami hanya karena melihat satu menit video atau membaca satu paragraf singkat. Padahal, dalam tradisi Islam, ilmu bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Perintah membaca dalam ayat ini bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca dengan kesadaran, dengan penghayatan, dan dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa proses belajar dalam Islam adalah proses yang mendalam, bukan sekadar cepat dan instan.
Budaya scroll sering membuat kita kehilangan kedalaman itu. Kita lebih tertarik pada konten yang singkat, viral, dan emosional, daripada yang panjang, sistematis, dan membutuhkan pemikiran. Akibatnya, pemahaman agama menjadi sepotong-sepotong, bahkan terkadang salah arah. Tidak sedikit yang merasa cukup belajar dari media sosial, tanpa merasa perlu berguru kepada ahli ilmu.
Padahal Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ilmu itu harus diambil dari ahlinya. Dalam konteks ini, kehadiran guru, ustaz, atau ulama tetap tidak tergantikan. Media digital seharusnya menjadi sarana pendukung, bukan pengganti. Tanpa bimbingan yang benar, kita berisiko terjebak pada pemahaman yang keliru, bahkan ekstrem.
Namun, bukan berarti era digital adalah ancaman semata. Justru, ini adalah peluang besar bagi pendidikan Islam untuk berkembang lebih luas. Dakwah bisa menjangkau lebih banyak orang, ilmu bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengubah kebiasaan “scroll” menjadi “belajar”.
Kita perlu membangun kesadaran baru dalam belajar agama di era ini. Tidak cukup hanya menonton, tetapi juga mencatat. Tidak cukup hanya membaca, tetapi juga merenungkan. Tidak cukup hanya memahami, tetapi juga mengamalkan. Dengan begitu, teknologi tidak lagi menjadi pengalih perhatian, melainkan menjadi jembatan menuju kedekatan dengan Allah.
Allah SWT juga mengingatkan dalam firman-Nya:
“Afala tatafakkarun” (Apakah kamu tidak berpikir?)
(QS. Al-An’am: 50)
Ayat ini menegaskan pentingnya berpikir dan merenung dalam setiap ilmu yang kita terima. Inilah yang sering hilang dalam budaya scroll: kita cepat melihat, tetapi jarang berpikir.
Akhirnya, belajar agama di era scroll tanpa batas menuntut kedewasaan kita dalam menyikapi informasi. Kita harus mampu memilih, menyaring, dan mendalami. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton kebaikan tanpa pernah benar-benar menjalaninya.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak konten yang kita lihat, tetapi seberapa dalam ilmu itu mengubah hidup kita.(*)
