5. Cinta kepada Rasulullah ﷺ Dapat Mengangkat Derajat Seseorang
Kisah Tsauban radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah ﷻ tidak ditentukan oleh kedudukan dunia, tetapi oleh iman, ketakwaan, dan kecintaannya kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.
Tsauban radhiyallahu ‘anhu bukanlah seorang bangsawan atau orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat. Ia adalah seorang mantan budak. Namun, kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ begitu besar. Ia tidak hanya mencintai beliau ketika hidup di dunia, tetapi juga sangat berharap dapat bersama Rasulullah ﷺ di surga.
Kecintaan itulah yang mendorong Tsauban radhiyallahu ‘anhu untuk memiliki kerinduan yang luar biasa kepada Rasulullah ﷺ dan memikirkan bagaimana nasibnya kelak di akhirat.
Allah ﷻ berfirman:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwalah.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Penutup
Begitu pentingnya untuk memiliki himmah (cita-cita dan kemauan) yang tinggi, dengan meminta yang terbaik. Sebagaimana Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang selalu berdoa agar dapat menyertai Rasulullah ﷺ di surga tertinggi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ ﷺ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu iman yang tidak pernah berbalik menjadi kufur, kenikmatan yang tidak pernah sirna, dan agar dapat menemani Muhammad ﷺ di surga yang kekal, di tempat yang paling tinggi.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Ath-Thabrani)
Semoga Allah ﷻ menanamkan dalam hati kita kecintaan yang benar kepada Rasulullah ﷺ, menjadikan cinta itu sebagai sebab kita semakin taat kepada Allah ﷻ, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ di surga-Nya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. (*)
