Pada tahun 1993, Samuel Huntington menerbitkan artikel The Clash of Civilizations? yang kemudian dikembangkan menjadi buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996). Ia berpendapat bahwa setelah berakhirnya Perang Dingin, konflik dunia tidak lagi didominasi oleh ideologi atau ekonomi, tetapi oleh perbedaan identitas peradaban, terutama agama, budaya, dan nilai-nilai hidup.
Dalam pandangannya, peradaban Barat akan berhadapan dengan peradaban lain, khususnya Islam dan Konfusianisme, karena perbedaan mendasar dalam cara memandang manusia, masyarakat, dan kekuasaan.¹
Prediksi Huntington patut dipahami sebagai analisis geopolitik, bukan sebagai kebenaran mutlak. Namun, sebagian pengamat menilai bahwa pengaruh budaya Barat melalui globalisasi, media digital, industri hiburan, serta liberalisasi nilai memang telah membawa tantangan besar bagi masyarakat Muslim.
Pergeseran nilai keluarga, normalisasi perilaku yang bertentangan dengan syariat, sekularisasi kehidupan, hingga melemahnya identitas keislaman merupakan fenomena yang banyak dibahas oleh para ulama dan cendekiawan Muslim kontemporer, termasuk , yang menilai bahwa perang pemikiran (ghazw al-fikr) merupakan salah satu tantangan terbesar umat Islam pada era modern.
Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan bahwa akan selalu ada upaya untuk menggeser kaum Muslim dari prinsip agamanya. Allah Ta’ala berfirman:
«وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120).»
Demikian pula firman-Nya:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 200).»
Ayat-ayat tersebut dipahami para mufassir sebagai peringatan agar kaum Muslim tetap teguh memegang akidah dan tidak larut dalam tekanan ataupun pengaruh yang dapat mengikis identitas keimanan.
berkata:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
Beliau menjelaskan bahwa menyerupai suatu kaum dalam hal-hal yang menjadi ciri khas agama dan identitas mereka dapat mengantarkan kepada kecenderungan hati untuk mengikuti jalan hidup mereka.
Sementara itu, mengemukakan kaidah sosiologis yang terkenal:
«الْمَغْلُوبُ مُولَعٌ أَبَدًا بِالِاقْتِدَاءِ بِالْغَالِبِ»
“Pihak yang kalah biasanya selalu terpikat untuk meniru pihak yang menang.”
Kaidah ini menunjukkan bahwa dominasi suatu peradaban sering kali diikuti oleh proses imitasi budaya, gaya hidup, bahkan pola pikir.
Karena itu, jawaban Islam terhadap tantangan peradaban bukanlah mengasingkan diri dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan membangun peradaban yang berlandaskan wahyu. Umat Islam diperintahkan mengambil ilmu yang bermanfaat, menguasai sains, ekonomi, pendidikan, dan teknologi, namun tetap menjadikan akidah dan syariat sebagai fondasi. Kemajuan tanpa iman akan melahirkan krisis moral, sedangkan keimanan tanpa ilmu akan menyebabkan kelemahan umat.
Maka, benturan peradaban yang diprediksi Huntington hendaknya menjadi pengingat agar umat Islam memperkuat pendidikan tauhid, memperkokoh institusi keluarga, membangun tradisi ilmu, dan melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak. Dengan demikian, umat Islam tidak menjadi objek yang “dikoyak-koyak” oleh arus globalisasi, tetapi menjadi pelaku peradaban yang menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Catatan Kaki:
1. Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (New York: Simon & Schuster, 1996), 19–39.
2. , Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), 35–67.
3. , jil. 22 (Madinah: Mujamma’ al-Malik Fahd), 154.
4. (Beirut: Dar al-Fikr, 2004), 146.
