Kalau Hatimu Mudah membenci, Jangan-Jangan Imanmu Belum Selasai Dipelajari

Kalau Hatimu Mudah membenci, Jangan-Jangan Imanmu Belum Selasai Dipelajari
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim.
www.majelistabligh.id -

Menyimpan benci dalam dada sering kali rasanya seperti meminum racun, tetapi berharap orang lain yang mati. Kita kerap merasa bahwa amarah dan kebencian yang kita pelihara adalah bentuk pertahanan diri atau pembelaan atas kebenaran. Padahal, jika kita mau jujur menatap ke dalam diri, kebiasaan mudah membenci bisa jadi sinyal red flag bagi kondisi spiritual kita: jangan-jangan, iman kita memang belum selesai dipelajari.

Iman dalam Islam bukanlah sekadar deretan hafalan rukun, teori hukum fiqih, atau penampilan fisik yang serba religius. Iman adalah transformasi jiwa. Rasulullah SAW. menegaskan bahwa lisan dan perbuatan seorang muslim seharusnya menjadi peneduh bagi sekitarnya, bukan sumber ancaman:

Seorang muslim adalah orang yang membuat orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika hati begitu mudah tersulut dendam, gampang tersinggung, dan hobi menghakimi kesalahan orang lain, ada rongga besar dalam pemahaman agama kita yang belum terisi.

Kenapa Hati Mudah Membenci?

• Agama Baru Sampai di Tenggorokan: Kita sering kali terjebak mempelajari Islam sebatas ritual lahiriah, tetapi lupa mempelajari tazkiyatun nufus (pembersihan jiwa). Agama diresapi sebagai identitas sosial, bukan sebagai obat penawar kesombongan.

• Merasa Paling Benar (Ujub): Membenci orang lain biasanya berakar dari perasaan bahwa diri kita lebih mulia, lebih soleh, atau lebih berilmu. Padahal, puncak dari ilmu agama adalah kerendahan hati.

• Lupa pada Sifat Ar-Rahman: Bagaimana mungkin kita mengaku menyembah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, sementara dada kita sempit dan penuh kedengkian terhadap sesama makhluk-Nya?

Iman yang matang tidak akan menghasilkan pribadi yang pemarah, melainkan pribadi yang ramah. Rasulullah SAW tidak pernah membenci personal manusia, melainkan perbuatan buruknya. Bahkan kepada mereka yang meludahi dan melempari beliau dengan batu di Thaif, doa yang keluar dari bibir beliau bukanlah kutukan, melainkan permohonan ampunan dan hidayah.

Memperbaiki iman adalah proses seumur hidup. Jika hari ini kita masih merasa hati ini keras, gampang membenci, dan sulit memaafkan, itu tandanya kita harus kembali duduk sebagai murid. Kembalilah mempelajari tauhid yang melembutkan jiwa, pelajari kembali sirah nabawiyah tentang indahnya akhlak, dan akuilah di hadapan Allah bahwa diri kita masih sangat miskin akan pemahaman agama yang benar.

Jangan biarkan ibadah yang kita tumpuk setiap hari hangus begitu saja oleh api kebencian yang kita pelihara sendiri.

Meskipun demikian, pesan tersebut berakar kuat pada beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW yang membahas tentang hakikat iman yang belum masuk sepenuhnya ke dalam hati, larangan membenci, serta kebersihan jiwa.

QS. Al-Hujurat (49): 14
Ayat ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan keyakinan yang benar-benar tertanam dan mengubah perilaku di dalam hati.
۞ قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami baru berislam’ karena iman (yang sebenarnya) belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu.” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

QS. Al-Hashr (59): 10
Doa orang-orang beriman agar dibersihkan hatinya dari rasa benci, dengki, dan iri terhadap sesama mukmin.
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ
Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Hadis Pendukung Hakikat Kesempurnaan Iman
Nabi Muhammad SAW juga mengaitkan kesempurnaan iman seseorang dengan kemampuannya mencintai sesama dan menghindari kebencian:

• “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)

• “Janganlah kalian saling membenci, saling membelakangi, dan saling mendengki. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.(HR. Bukhari)

Pesan hikmah tersebut mengingatkan kita untuk kembali melakukan muhasabah (evaluasi diri) jika hati masih mendominasi rasa benci, iri, atau dengki, maka pembinaan iman di dalam dada memang belum tuntas diaplikasikan.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Search