Dai Harus Menjadi Fasilitator Umat, Bukan Merasa Paling Tahu

Dai Harus Menjadi Fasilitator Umat, Bukan Merasa Paling Tahu
www.majelistabligh.id -

Anggota Divisi Kader Mubaligh Muda Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Timur, Drs. Yoyon Mudjiono, MSi menegaskan bahwa misi utama dakwah adalah membantu memecahkan persoalan umat tanpa menjadikan umat sebagai objek dakwah semata. Menurutnya, masyarakat sering kali lebih memahami persoalan yang mereka hadapi, sementara dai berperan sebagai fasilitator dan motivator yang membantu menemukan solusi.

“Jangan sampai mubaligh yang hanya satu jam bertemu sudah merasa lebih tahu tentang permasalahan umat yang ada di situ,” ujar Ki Yoyon Mudjiono saat menyampaikan materi Fikih Dakwah Muhammadiyah (Manajemen dan Komunikasi) dalam kegiatan Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) di SD Muhammadiyah 1 Paiton, Sabtu (20/6/2026).

Dalam pemaparannya, Ki Yoyon menjelaskan berbagai pendekatan praktis yang perlu dilakukan seorang dai ketika berdakwah secara tatap muka. Selain menguasai materi yang akan disampaikan, seorang mubaligh juga harus mampu menyapa dan menghargai audiens sebagai bentuk penghormatan kepada jamaah.

“Jangan menatap mata, tapi tatap kening, tidak segan-segan menyapa audience dan sapu pandangan sebagai upaya menghargai audience,” ujarnya.

Ia menambahkan, suasana yang akrab dapat dibangun melalui pertanyaan-pertanyaan ringan sebelum memasuki materi utama. Cara sederhana tersebut mampu mencairkan suasana dan mendekatkan dai dengan jamaah.

Ki Yoyon juga membagikan sejumlah tips praktis sebelum seorang dai naik mimbar. Salah satunya adalah membiasakan minum air putih agar tenggorokan lebih lega sehingga penyampaian tausiyah dapat berlangsung dengan baik.

Menurutnya, ketika telah dipersilakan naik mimbar, seorang dai tidak perlu terburu-buru memulai ceramah. Ketenangan dan penguasaan diri justru menjadi modal penting untuk mengendalikan suasana forum.

“Begitu MC mempersilakan dai naik mimbar, kitalah penguasa atau pengendali forum itu, maka jangan tergesa-gesa, kendalikan diri agar tenang hingga akhirnya membuka pembicaraan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga memberikan solusi ketika seorang dai mengalami kesulitan mengingat hafalan ayat saat menyampaikan ceramah.

“Jangan menunggu sampai ingat, nanti kelihatan blank, langsung saja, bilang maksudnya maka biasanya akan dengan sendirinya ingatlah ayat yang mau disampaikan,” jelasnya.

Dalam sesi tersebut, Ki Yoyon mengajak para peserta untuk memahami pentingnya memetakan karakteristik audiens berdasarkan kondisi sosial, ekonomi, dan tingkat pemahaman keagamaan mereka. Menurutnya, setiap kelompok masyarakat memerlukan pendekatan dakwah yang berbeda.

Ia mencontohkan adanya masyarakat yang secara ekonomi maju tetapi pemahaman agamanya masih terbatas. Sebaliknya, ada pula kelompok masyarakat yang memiliki tingkat religiusitas tinggi namun berada dalam kondisi ekonomi yang kurang baik.

“Bagaimana juga kita saat diundang di masyarakat yang secara ekonomi pas-pasan, agama juga lemah, ini semua butuh pendekatan berbeda, namun yg pasti dai harus bisa melakukan pendekatan dari hati hati,” jelasnya.

Karena itu, sikap menghargai dan memahami kondisi audiens harus menjadi pegangan utama setiap mubaligh. Dengan memahami latar belakang jamaah, seorang dai tidak akan mudah menghakimi ataupun terkesan menggurui.

Sementara itu, Anggota Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Timur, Alif Jatmiko, S.Th.I., M.Si., menekankan pentingnya memahami tujuan dan konteks materi yang akan disampaikan dalam sebuah forum kajian. Menurutnya, pertanyaan mengenai apa, siapa, dan mengapa suatu tema disampaikan akan membantu dai menentukan materi yang paling relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Meskipun kita sudah dikasih tema tidak masalah kita breakdown lagi ke tema yang lebih detail, agar apa yang kita bahas benar-benar sesuai dengan apa yang jadi masalah di masyarakat tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, kemampuan mengidentifikasi kebutuhan jamaah merupakan salah satu kunci keberhasilan dakwah. Dengan demikian, materi yang disampaikan tidak hanya menarik, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. (ono)

Tinggalkan Balasan

Search