Dari AHWA Muktamar ke-35 NU hingga Suksesi Kepemimpinan Negara: Sebuah Perspektif Epistemologi Qurani

Dari AHWA Muktamar ke-35 NU hingga Suksesi Kepemimpinan Negara: Sebuah Perspektif Epistemologi Qurani
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek SIdoarjo dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek.
www.majelistabligh.id -

Dan yang paling mendasar:

Apakah kita sedang memilih pemimpin karena mengetahui bahwa ia layak memimpin, atau karena berhasil membuat kita percaya bahwa ia layak memimpin?

Di titik inilah persoalan politik berubah menjadi persoalan epistemologi.

Kita tidak hanya membutuhkan demokrasi prosedural, tetapi juga masyarakat epistemik—masyarakat yang mampu membaca informasi, menguji klaim, mengenali kompetensi, membedakan fakta dari propaganda, dan menilai kepemimpinan berdasarkan ukuran yang lebih dalam daripada popularitas.

Sebab apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk mengenali kebenaran, maka sebaik apa pun mekanisme pemilihan dapat dimanfaatkan oleh mereka yang paling pandai memanipulasi persepsi.

Maka, dari AHWA Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, kita dapat menarik pertanyaan yang jauh lebih besar untuk Indonesia: bagaimana membangun sistem suksesi kepemimpinan yang tidak hanya sah secara prosedural, tetapi juga semakin dekat dengan prinsip amanah, keadilan, kelayakan, musyawarah, dan kemaslahatan sebagaimana dituntunkan Al-Qur’an?

Inilah wilayah yang ingin disentuh oleh Epistemologi Qurani.

Bukan mencari satu bentuk sistem yang dianggap sakral.

Bukan pula menolak seluruh sistem modern secara apriori.

Melainkan mencari prinsip epistemologis yang dapat menjadi pagar bagi setiap sistem.

Sebab yang paling berbahaya bukan hanya pemimpin yang buruk.

Yang lebih berbahaya adalah sistem yang memungkinkan pemimpin buruk naik ke kekuasaan, bertahan di dalamnya, dan kemudian menggunakan kekuasaan untuk mempersempit jalan koreksi.

Karena itu, suksesi yang sehat bukan sekadar memastikan bahwa pemimpin lama pergi dan pemimpin baru datang.

Suksesi yang sehat harus memastikan bahwa amanah tetap tinggal, meskipun manusia yang memegangnya berganti.

Dan mungkin di situlah kita menemukan makna paling dalam dari membaca AHWA, Khulafaur Rasyidin, dan suksesi kepemimpinan negara dalam satu horizon epistemologis:

bukan bagaimana memenangkan kekuasaan, tetapi bagaimana menjaga agar kekuasaan tidak memenangkan hawa nafsu manusia. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search