Demokrasi dan Cita Cita Kemerdekaan: Mengapa Kita Wajib Cemas?

Demokrasi dan Cita Cita Kemerdekaan: Mengapa Kita Wajib Cemas?
*) Oleh : Suyoto
Ketua Koordinator Kebijakan Publik dan Isu Strategis DPP Partai NasDem
www.majelistabligh.id -

Lima Pilar Relasi Otentik dan Generatif

Lantas, apa yang sejatinya diperlukan untuk merajut relasi kekuasaan yang otentik, produktif, dan generatif bagi masa depan bersama? Sedikitnya ada lima pilar utama yang harus dihadirkan secara simultan:

1. Rakyat yang Berdaya dan Kritis: Warga negara yang menyadari hak dan tanggung jawab publiknya, melek politik, memahami panggilan sejarah serta konteks lokalnya, dan aktif bertindak sebagai pemilik kuasa yang sah di semua jenjang pemerintahan.
2. Pemimpin dengan Kompetensi Ecosystem Leadership: Pemimpin politik yang tidak lagi terjebak dalam egosentrisme kekuasaan atau pemikiran sektoral jangka pendek, melainkan memiliki kapasitas kepemimpinan berbasis kesadaran ekosistem—mampu merangkul dan mengonsolidasikan seluruh pemangku kepentingan, membangun tatakelola generative untuk kebaikan semua. Di sinilah diperlukan kapasitas mendasar seorang pemimpin: mendengarkan, berkomunikasi dengan hikmah dan kebijaksanaan. Sebagai sila keempat Pancasila.
3. Partai Politik yang Inklusif dan Artikulatif: Partai politik yang aktif membuka ruang publik, mendengarkan denyut nadi masyarakat, dan mengartikulasikannya secara jujur ke dalam proses pembentukan kebijakan tata kelola pemerintahan.
4. Civitas Akademika dan Masyarakat Sipil sebagai Kompas Moral: Komunitas akademis dan organisasi sosial yang terus memberikan pencerahan publik, menyuplai pemikiran berbasis data/bukti, serta aktif mengingatkan kompas kebangsaan saat terjadi penyelewengan.
5. Media Massa sebagai Suara Nurani: Pers yang independen dan berintegritas, yang berdiri tegak merepresentasikan suara kebenaran dan nurani bangsa tanpa terkooptasi oleh kepentingan modal maupun kekuasaan.

Demokrasi sebagai Self-Correcting Mechanism
Sejarawan Yuval Noah Harari mengingatkan bahwa sebuah bangsa atau peradaban akan sangat mudah hancur manakala mekanisme koreksi diri (self-correcting mechanism) di dalamnya berhenti berfungsi. Sistem otoriter sering kali menawarkan ilusi stabilitas dan efisiensi jangka pendek, namun mereka sangat rapuh karena tidak memiliki ruang untuk mengakui, menguji, dan memperbaiki kesalahan.

Demokrasi, pada hakikatnya, adalah ruang bersama bagi suatu bangsa untuk merasakan tantangan, belajar bersama, mencoba terobosan-terobosan baru, serta melakukan evaluasi dan koreksi secara jujur. Hanya melalui mekanisme koreksi diri yang hidup inilah, berbagai tantangan global maupun lokal—mulai dari krisis iklim, disrupsi teknologi, hingga ketimpangan ekonomi—dapat dihadapi dengan kecerdasan dan kekuatan kolektif. Tanpa demokrasi yang sehat, kemampuan adaptasi dan daya hidup (viability) bangsa ini akan kerdil. Kualitas percakapan di semua level dan forum menjadi menentukan kualitas kebijakan dan kehidupan publik. Itulah sebabnya kita wajib mencerahkan praktek demokrasi kita hari ini.

 

Tinggalkan Balasan

Search