Telah menjadi sunnatullah bahwa ketika manusia berlimpah harta atau kekuasaan, membanggakan diri dan berperilaku menyimpang. Seakan kenikmatan yang ada di depan matanya hasil usahanya sendiri dan hilang kesadaran atas karunia Allah.
Ke-Maha-Lembutan Allah ditunjukkan kepada manusia dengan melapangkan rizki kedanya. Alih-alih bersyukur, manusia justru berperilaku melampaui batas hingga melakukan kerusakan di muka bumi. Firaun merupakan contoh manusia angkuh dan sombong ketika puncak kenikmatan harta dan kekuasaan berada di tangannya. Bukan hanya membanggakan diri atas kekuasaannya, tetapi merendahkan Nabi Musa yang menggugah kesadarannya atas penyimpangan perilakunya.
Keangkuhan Manusia
Seakan menjadi garis kehidupan bahwa ketika manusia dimudahkan rezekinya, justru hilang kesadaran sosialnya, tetapi justru muncul rasa ego dan sombong. Ketika dalam keadaan sempit, manusia bersahaja. Kelemahlembutannya menonjol. Namun ketika rezekinya mengalir, maka tenggelam kesahajaan dan lemah lembutnya, berganti dengan keras kepala dan perilaku kasar kepada orang lain. Al-Qur’an sudah mendeskripsikan hal itu sebagaimana firman-Nya :
وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَا دِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَ رْضِ وَلٰكِنْ يُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ بِعِبَا دِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ
Artinya :
“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura : 27)
Ketika rezekinya lapang, maka muncul ego kesombongan dan tidak lagi menerima nasihat kebaikan. Bahkan parameter kebaikan berubah dan dirinya lah sebagai tolok ukurnya. Hal ini mengingatkan karakter kaum Quraisy ketika datang Nabi Muhammad yang diutus Allah kepada mereka. Mereka beranggapan bahwa utusan Allah seharusnya kaya dan berpengaruh, bukan miskin dan tak memiliki pengaruh apa-apa. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
وَقَا لُوْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰ نُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ
Artinya :
“Dan mereka (juga) berkata, “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu (di antara) dua negeri ini (Makkah dan Taif)?” (QS. Az-Zukhruf : 31)
Hal ini selaras dengan apa yang dilakukan Fir’aun yang menrendahkan Nabi Musa yang datang menggugah kesadaran palsunya. Kenikmatan harta dan kekuasaan telah mengubur rasa ketuhanan dan berubah menghinakan utusan Allah. Dia membanggakan dirinya seraya merendahkan Nabi Musa. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
اَمْ اَنَاۡ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ۙ وَّلَا يَكَا دُ يُبِيْنُ
Artinya :
“Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?” (QS. Az-Zukhruf : 52)
Ketika menghinakan Nabi Musa, Fir’aun mengumbar prestasi dan mengagungkan dirinya dengan istana megah dan menunjukkan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya sebagai karya terbaiknya. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَنَا دٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَا لَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَ نْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْ ۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
Artinya :
“Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?” (QS. Az-Zukhruf : 51)
Kompas Hawa Nafsu
Perilaku manusia yang melampaui batas hingga melakukan kerusakan di bumi ini karena menjadi kepentingan diri atau hawa nafsu sebagai tolok ukur kebenaran. Padahal hawa nafsu tidak bisa dijadikan standar. Ketika hawa nafsu menjadi pertimbangan maka sulit untuk mendapatkan titik temu antar satu manusia dengan manusia lain.
Ketika hawa nafsu menjadi parameter, maka spontan akan menolak ketika datang kebenaran. Ketika menolak kebenaran yang disampaikan oleh utusan-Nya, maka Allah pun menutup jalan dari indera dan hati nuraninya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَ ضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Artinya :
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah : 23)
Allah menjadikan mereka terombang ambing dalam kesesatan sehingga tak lagi mampu mengambil hikmah atas nasihat yang datang kepada dirinya. Pendengaran dan hati terkunci, matanya tak bisa membedakan mana yang bagus dan jelek.
Salah satu bentuk kesesatan itu, ketika diberitakan akan adanya hari kebangkitan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, mereka mendustakannya. Mereka berbalik mendakwahi utusan Allah bahwa hidup ini sekali dan masa yang akan memusnahkannya. Mereka menganggap dunia ini adalah kehidupan yang sebenarnya tanpa ada lagi kehidupan setelahnya. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَا لُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَا تُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَاۤ اِلَّا الدَّهْرُ ۗ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ
“Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jasiyah : 24)
Itulah dugaan semata karena telinga dan mata hati terkunci, serta penglihatannya tertutup oleh gemerlap dan limpahan dunia dan kekuasaan. Kondisi itulah yang membuat manusia tersesat karena hawa nafsu telah mendominasi dan menjadi tolok ukurnya.
Surabaya, 22 Agustus 2026
