Sebagai pemegang kekuasaan absolut di wilayah Mesir Kuno dan mengaku sebagai Tuhan di hadapan pengikutnya, ternyata Fir’aun tak berdaya dari cengkeraman maut. Makanya ia tetap saja sibuk mempersiapkan kematian.
Buktinya, ia memerintahkan bala tentaranya membangun piramida sebagai tempat peristirahatan terakhir. Tidak tanggung-tanggung, ia menginginkan bangunan itu berdiri megah dan menjulang tinggi.
Tujuannya bukan hanya untuk menjadi penanda besarnya kekuasaan yang dimiliki, melainkan juga sebagai bukti bahwa kematian bukanlah hal yang bisa mengalahkan dirinya.
Di negeri lain, juga tidak jauh berbeda. Kaisar Qin Shi Huang, penguasa pertama yang menyatukan daratan Tiongkok, memerintahkan ratusan ribu pekerja menggali makam raksasa di sebuah kawasan perbukitan.
Di sekeliling bakal liang lahat, ia menguburkan ribuan patung prajurit Terracotta—berbahan tanah liat—ukuran manusia, lengkap dengan kereta, kuda, dan senjata. Semua itu agar ia tidak sendirian saat di alam baka nantinya.
Bayangkan, dua orang yang sama-sama mengaku berkuasa mutlak di muka bumi, namun ingkar adanya hari pembalasan, justru sama-sama takut menghadapi kematian dengan tangan hampa. Fir’aun menyiapkan batu besar, sedangkan Kaisar Qin menyiapkan tanah liat. Keduanya sibuk membangun “rumah keabadian” versi mereka sendiri.
Kisah kedua penguasa ini memberikan pelajaran penting bagi kita untuk juga lebih mempersiapkan bekal dalam menghadapi kematian, sebagaimana dipesankan Nabi SAW: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.”
Tak dapat disangkal jika kematian adalah keniscayaan yang tidak bisa dilawan. Sehebat apa pun kekuasaan manusia, pasti tidak berdaya melawannya. Upaya membangun piramida megah dan makam raksasa adalah pengakuan tidak langsung bahwa mereka mustahil bisa mengalahkan kematian.
Ketakutan menghadapi ajal tanpa amal inilah yang membuat manusia, bahkan yang ingkar hari pembalasan sekalipun, mencari kompensasi dengan hal-hal materialistis untuk dibawa ke alam baka.
Percaya bahwa kematian pasti datang, sesungguhnya bukan monopoli bagi mereka yang beriman pada hari akhir saja. Karena secara fitrah seluruh manusia percaya akan adanya kematian sebagai akhir siklus kehidupan di dunia.
Hal ini telah ditegaskan Allah sejak lima belas abad yang lalu melalui firman-Nya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” [QS. Al-Ankabut: 57].
Lantas pertanyaannya sekarang: jika kematian itu pasti, sudahkah kita menyiapkan bekalnya?
Dengan dasar iman, kita percaya bahwa setelah kematian ada siksa atau nikmat kubur, ada hisab pada hari kebangkitan, serta ada surga dan neraka sebagai tempat akhir pembalasan.
Namun sayangnya, banyak di antara kita yang bukannya sibuk menyiapkan amal, malah lebih sibuk mengamankan kenyamanan duniawi yang pasti ditinggalkan.
Sebagian kita lebih mempertaruhkan hidup pada selembar jaminan polis asuransi, hingga mereduksi kesakralan wasiat menjadi sekadar transaksi testament formal di meja notaris.
Akibatnya, kita sibuk mengamankan legalitas materi yang akan ditinggalkan, tetapi lupa menyiapkan “asuransi” bagi jiwa kita sendiri saat berhadapan dengan hisab Allah kelak.
Tak ada salahnya, mulai sekarang kita muhasabah diri dengan menjadikan kisah monumental ini sebagai momentum terbaik mempersiapkan datangnya hari-hari yang sering dilalaikan kehadirannya.
Cukuplah persiapan yang dilakukan Fir’aun dan Kaisar Qin itu menjadi pelajaran bahwa keduanya kalah karena bekal yang mereka siapkan salah. Karena itu, jangan sampai kita kalah dengan cara yang sama, hanya berbeda bentuknya saja.
Keduanya boleh saja jauh-jauh hari sibuk mempersiapkan diri. Namun pembedanya dengan kita adalah: mereka mempersiapkan “istana kubur” dari batu besar dan tanah liat. Bahan bangunan itu terbukti mampu bertahan ribuan tahun di dunia, tetapi sama sekali tidak bisa menyelamatkan jiwa pemiliknya di akhirat.
Sedangkan kita, rumah abadi di akhirat yang sesungguhnya hanya bisa dibangun dengan amal saleh dan pertanggungjawaban iman, bukan dengan benda mati. Karena itu, kita diperintahkan mempersiapkan “bekal” terbaik sebagai investasi spiritual dan sosial yang akan menemani kelak saat hari perhitungan.
Sudah saatnya kita memeriksa isi “rekening amal” sebelum malaikat maut datang mengetuk. Bekal kita mungkin tak terlihat secara fisik, tetapi itulah yang sesungguhnya ditimbang di hari akhir.
Dengan bekal yang cukup, kematian tidak lagi menjadi momok. Kita bisa pulang dengan tenang, karena kita tidak kembali ke Maha Pencipta dengan tangan hampa. Malaikat pun akan mengiringi sambil berucap lembut: “Keluarlah engkau, hai jiwa yang baik, dari tubuh yang baik yang sebelumnya engkau huni. Keluarlah menuju ampunan dan nikmat, serta Tuhan yang tidak murka.” (HR Ibnu Majah No. 4252).
