Ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan ketika berbicara tentang kemunduran dunia Islam. Mengapa umat yang memiliki Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup justru masih tertinggal dalam banyak bidang? Mengapa negeri-negeri Muslim yang dipenuhi masjid, majelis ilmu, dan semangat keagamaan belum sepenuhnya mampu menghadirkan keadilan, kemajuan ilmu pengetahuan, serta kepemimpinan yang amanah?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tidak terletak pada politik, ekonomi, ataupun teknologi. Semua itu hanyalah buah. Akar persoalannya justru berada pada manusia.
Al-Qur’an tidak memulai perubahan dengan membangun sistem. Wahyu pertama yang turun bukanlah tentang negara, hukum, atau kekuasaan. Yang pertama kali turun adalah satu kata yang sangat sederhana: Iqra’. Bacalah.
Perintah ini mengandung makna yang sangat dalam. Allah membangun peradaban dengan terlebih dahulu membangun cara manusia memperoleh dan memahami kebenaran. Sebab cara berpikir akan melahirkan cara memandang kehidupan. Cara memandang kehidupan akan membentuk karakter. Karakter akan menentukan tindakan. Dan tindakan akan menentukan arah sebuah peradaban.
Karena itu, tujuan Al-Qur’an bukan sekadar melahirkan manusia yang pandai. Al-Qur’an ingin melahirkan manusia yang benar. Manusia yang akalnya tunduk kepada wahyu, yang ilmunya melahirkan ketakwaan, dan yang kekuatannya dipergunakan untuk menghadirkan kemaslahatan. Al-Qur’an menyebut mereka dengan satu istilah yang sangat indah: Ulul Albab.
Ulul Albab bukan hanya orang yang mampu berpikir. Mereka adalah manusia yang berpikir sambil mengingat Allah, yang membaca alam sambil menyadari kebesaran-Nya, hingga akhirnya berkata:
“Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilaa.”
“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.”
Kesimpulan itu bukan sekadar hasil kecerdasan intelektual. Ia adalah buah dari cara berpikir yang dibimbing oleh wahyu. Dari sinilah lahir manusia bertauhid.
Menariknya, ketika Al-Qur’an berbicara tentang kepemimpinan, yang ditekankan bukan pertama-tama bentuk negara atau sistem politik. Allah justru memberikan sebuah janji yang sangat jelas:
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa (khalifah) di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…” (QS. An-Nur: 55).
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar. Kekhalifahan bukanlah hak setiap orang. Ia adalah amanah yang dijanjikan kepada manusia yang beriman dan beramal saleh. Dengan kata lain, Al-Qur’an lebih dahulu membentuk kualitas manusia sebelum mempercayakan amanah kepemimpinan kepadanya.
Inilah pelajaran besar yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Selama tiga belas tahun di Makkah, beliau tidak membangun negara. Beliau membangun manusia. Beliau menanamkan tauhid, membentuk akhlak, meluruskan cara berpikir, dan membangun keyakinan bahwa seluruh kehidupan berada di bawah pengawasan Allah.
Barulah setelah lahir generasi yang kokoh imannya, berdirilah masyarakat Madinah. Peradaban itu kemudian diteruskan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Mereka bukan hanya pemimpin yang cakap, tetapi manusia yang terlebih dahulu dibentuk oleh wahyu. Kekuatan Peradaban Madinah bukan terutama pada sistem pemerintahannya, melainkan pada kualitas manusia yang menjalankannya.
Pelajaran sejarah ini terasa sangat relevan hari ini. Kita sering menghabiskan energi untuk memperdebatkan sistem politik, mekanisme demokrasi, atau model kepemimpinan. Padahal persoalan yang lebih mendasar adalah: siapa manusia yang akan menjalankan sistem itu?
Sistem yang baik dapat kehilangan maknanya apabila dijalankan oleh manusia yang kehilangan amanah. Sebaliknya, sebuah mekanisme yang sederhana dapat menghadirkan keadilan apabila dijalankan oleh manusia yang takut kepada Allah.
Barangkali dari sinilah gagasan theistic democracy yang dirumuskan Mohammad Natsir memperoleh maknanya. Demokrasi bukan sekadar prosedur memilih pemimpin. Demokrasi harus dipandu oleh kesadaran tauhid. Sebab kekuasaan dalam pandangan Islam bukan milik manusia, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu, tantangan terbesar umat Islam hari ini bukan semata-mata menemukan sistem politik yang paling ideal. Tantangan yang jauh lebih besar adalah melahirkan kembali manusia-manusia yang layak memikul amanah itu. Manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur. Tidak hanya berilmu, tetapi juga beradab. Tidak hanya memiliki kekuasaan, tetapi juga memiliki rasa takut kepada Allah.
Di titik inilah pendidikan menemukan makna strategisnya. Misi pendidikan Qurani bukan sekadar menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di dunia kerja. Misinya jauh lebih besar: melahirkan Generasi Tauhid.
Generasi yang memahami bahwa ilmu adalah amanah. Bahwa kekuasaan adalah amanah. Bahwa kepemimpinan adalah amanah. Dan bahwa seluruh amanah itu kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Sebab pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh gedung-gedung megah, teknologi yang canggih, atau sistem yang rumit. Peradaban dibangun oleh manusia. Ketika lahir Generasi Tauhidik, lahirlah kepemimpinan yang amanah. Ketika kepemimpinan menjadi amanah, lahirlah Peradaban Tauhidik.
Mungkin inilah makna terdalam dari janji Allah dalam Surah An-Nur ayat 55: Allah tidak sekadar menjanjikan kekuasaan, tetapi menjanjikan amanah kekhalifahan kepada manusia yang beriman dan beramal saleh, agar melalui mereka bumi menjadi tempat tegaknya keadilan, kemaslahatan, dan rahmat bagi seluruh alam. (*)
