Mahalnya Kejujuran di Era Modern

Mahalnya Kejujuran di Era Modern
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek Al Fattah & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Kejujuran merupakan salah satu akhlak paling agung dalam Islam. Namun, di tengah kehidupan modern yang sarat persaingan dan orientasi materi, kejujuran justru menjadi sesuatu yang semakin mahal. Tidak sedikit orang yang rela mengorbankan nilai kejujuran demi keuntungan sesaat. Padahal, seorang mukmin sejati tidak hanya merasa diawasi oleh manusia, tetapi lebih dari itu, ia meyakini bahwa Allah senantiasa melihat seluruh amal perbuatannya.

Salah satu kisah yang sangat menginspirasi adalah kisah seorang gadis penjual susu pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu. Pada suatu malam, Umar berkeliling mengawasi keadaan rakyatnya. Beliau mendengar seorang ibu menyuruh putrinya mencampurkan air ke dalam susu agar jumlahnya bertambah. Sang putri menolak seraya berkata:

إِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ نَهَى عَنِ الْغِشِّ

“Sesungguhnya Amirul Mukminin telah melarang perbuatan curang.”

Sang ibu menjawab bahwa Umar tidak akan mengetahui perbuatannya. Namun putrinya memberikan jawaban yang abadi sepanjang zaman:

إِذَا كَانَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ لَا يَرَانَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَرَانَا

*”Jika Amirul Mukminin tidak melihat kita, maka sesungguhnya Allah melihat kita.“*¹

Kalimat sederhana tersebut mencerminkan hakikat murāqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap amal hamba-Nya. Prinsip inilah yang melahirkan kejujuran, sekalipun tidak ada manusia yang mengetahui.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى

“Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat?” (QS. al-‘Alaq [96]: 14).

Demikian pula firman-Nya:

> إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.” (QS. an-Nisā’ [4]: 1).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ²

Hadis ini menegaskan bahwa kejujuran merupakan jalan menuju seluruh bentuk kebaikan, sedangkan kebohongan menjadi awal berbagai kerusakan.

Realitas hari ini menunjukkan bahwa kejujuran sedang diuji. Praktik manipulasi data, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam perdagangan, hingga penyebaran informasi palsu di media sosial menjadi fenomena yang semakin sering dijumpai. Banyak orang berpikir, “Tidak ada yang mengetahui.” Padahal, bagi seorang mukmin, keyakinan yang benar adalah, “Jika manusia tidak melihatku, maka Allah pasti melihatku.”

Karena itu, pendidikan kejujuran tidak cukup hanya melalui aturan dan pengawasan. Yang lebih penting adalah menanamkan akidah tentang pengawasan Allah (المراقبة) sejak dini. Ketika hati dipenuhi rasa muraqabah, seseorang akan tetap jujur meskipun berada sendirian.

Kejujuran memang semakin mahal di era sekarang, tetapi justru karena kelangkaannya, nilainya semakin tinggi di sisi Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang menjaga amanah dan kejujuran dalam setiap keadaan, sehingga kelak memperoleh kemuliaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Footnotes:
1. Abū Muḥammad ‘Abd al-Malik ibn Hishām, Al-Sīrah al-Nabawiyyah (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 2:425; lihat pula Ibn al-Jawzī, Ṣifat al-Ṣafwah (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1985), 2:114. Kisah ini masyhur dalam kitab-kitab tarikh dan manāqib mengenai Umar bin al-Khaṭṭāb.
2. Muḥammad ibn Ismā’īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 6094; Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2607.

 

Tinggalkan Balasan

Search