Banyak orang mengartikan rezeki sebatas angka di rekening tabungan, rumah megah, atau kendaraan mewah. Kita sering kali silau oleh jumlah, hingga menganggap bahwa semakin melimpah harta yang dimiliki, semakin besar pula keberkahan yang didapatkan. Padahal, Islam mengajarkan sudut pandang yang jauh lebih mendalam dan menenangkan dalam menilai sebuah rezeki.
Seorang ulama tabiin terkemuka, Qatadah rahimahullah, memberikan pencerahan yang sangat indah mengenai kriteria rezeki yang sebenarnya. Beliau menyampaikan sebuah nasihat bernas yang tercatat dalam Kitab Tafsir Al-Qurthubi: “Sebaik-baik rezeki adalah yang tidak membuat dirimu melampaui batas dan tidak membuat dirimu lalai (dalam beribadah).”
Perkataan ini mengajak kita untuk merefleksikan kembali arti kecukupan. Rezeki terbaik bukanlah yang paling banyak secara nominal, melainkan yang paling menjaga keimanan dan ketenangan jiwa pemiliknya.
Dua Keutamaan dari Rezeki yang Baik
Berdasarkan nasihat di atas, ada dua barometer utama untuk menilai apakah rezeki yang kita terima tergolong sebagai rezeki yang terbaik:
Tidak Membuat Melampaui Batas
Harta yang berlebihan tanpa dibentengi iman sering kali menjadi ujian berat. Harta tersebut berpotensi memicu sifat sombong, merasa tidak membutuhkan orang lain, hingga mendorong seseorang untuk berbuat zalim dan melanggar aturan Allah. Rezeki yang baik adalah rezeki yang menjaga seseorang tetap rendah hati dan berkecukupan tanpa timbul rasa haus kekuasaan atau kesombongan materi.
Tidak Melalaikan dari Ibadah
Banyak orang yang sibuk mengejar dunia hingga lupa pada Penciptanya. Waktu shalat terlewat karena urusan pekerjaan, hubungan dengan keluarga terabaikan, dan hati menjadi keras karena melupakan akhirat. Sebaliknya, rezeki yang berkah justru menjadi pendorong untuk semakin dekat kepada Allah, memudahkan seseorang untuk bersedekah, serta mempermudah langkahnya dalam menjalankan ibadah.
Menjaga Keseimbangan Hidup
Sering kali kita meminta rezeki yang melimpah, namun lupa memohon agar diberikan ketahanan iman untuk mengelolanya. Jika harta berlimpah justru menjauhkan kita dari sajadah, membuat kita enggan berbagi, dan memenuhi hati dengan kecemasan, maka harta tersebut bukanlah kenikmatan, melainkan ujian yang menyamarkan cobaan (istidraj).
Oleh karena itu, hendaknya kita tidak hanya berdoa memohon kelapangan rezeki, tetapi juga memohon keberkahan dan sifat qana’ah (merasa cukup). Memiliki harta secukupnya namun diiringi dengan hati yang tenang, waktu yang lapang untuk beribadah, serta keluarga yang harmonis adalah kenikmatan tiada tara.
Mari senantiasa bersyukur atas setiap takdir rezeki yang Allah tetapkan untuk kita hari ini. Karena pada akhirnya, rezeki terbaik adalah rezeki yang dapat menuntun kita menuju keselamatan di dunia dan akhirat.(*)
