Ghazwul Fikri di Era Digital: Ketika Perang Tidak Lagi Menggunakan Senjata

Ghazwul Fikri di Era Digital : Ketika Perang Tidak Lagi Menggunakan Senjata
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Mengisi Ruang Digital dengan Kebaikan

Ruang digital tidak akan pernah benar-benar kosong. Jika kita tidak mengisinya dengan ilmu, maka ia akan dipenuhi oleh apa saja yang paling mampu merebut perhatian. Karena itu, umat tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi. Kita juga perlu menjadi produsen gagasan yang sehat

Tulislah sesuatu yang mencerahkan. Buatlah video yang mendidik. Bagikan informasi yang dapat dipercaya. Berdiskusilah tanpa menghina. Kritiklah gagasan tanpa merendahkan manusia. Dengan demikian, menghadapi ghazwul fikri bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap dunia, tetapi membangun manusia yang berilmu, beriman, berkarakter, kritis, dan berakhlak.

Pada akhirnya, perang pemikiran yang paling penting bukanlah perang antara “kita” dan “mereka”. Ia adalah perjuangan setiap manusia untuk menjaga kejernihan akalnya, keteguhan imannya, dan kemuliaan akhlaknya di tengah dunia yang semakin bising. Sebab, pikiran yang tercerahkan tidak mudah ditaklukkan oleh propaganda; dan hati yang berakhlak tidak mudah dijadikan alat untuk membenci sesama.(*)

Daftar Referensi
1. Al-Qur’an, QS. An-Nahl: 43 — Landasan pentingnya ilmu dan bertanya kepada ahlinya ketika menghadapi ketidaktahuan.
2. UNESCO, Media and Information Literacy: Policy and Strategy Guidelines — Rujukan tentang literasi media, berpikir kritis, disinformasi, dan tantangan ruang digital.
3. Manuel Castells, The Rise of the Network Society — Buku penting untuk memahami kekuatan informasi, jaringan komunikasi, dan perubahan sosial di era digital.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search