Hati yang Tenang Bukan Hati yang Tanpa Masalah

Hati yang Tenang Bukan Hati yang Tanpa Masalah
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Pernahkah kita merasa lelah, padahal hari itu tidak banyak yang kita kerjakan? Pernahkah tubuh berada di rumah, tetapi pikiran berkelana ke mana-mana—memikirkan perkataan orang, rezeki yang belum datang, masa lalu yang belum selesai, atau masa depan yang belum tentu terjadi?

Kadang-kadang yang membuat kita lelah bukan beratnya kehidupan, melainkan ramainya isi hati.

Kita bisa memiliki rumah yang nyaman, pekerjaan yang baik, keluarga yang menyayangi, bahkan rezeki yang cukup. Namun, jika hati dipenuhi iri, kecewa, dendam, cemas, dan keinginan untuk selalu membandingkan diri dengan orang lain, ketenangan terasa begitu jauh.

Al-Qur’an memberikan jawaban yang sederhana, tetapi sangat dalam:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
QS. Ar-Ra’d [13]: 28

Perhatikan: Allah tidak mengatakan bahwa ketenangan datang ketika semua masalah selesai. Sebab, masalah tidak pernah benar-benar selesai selama kita masih hidup.

Ketenangan justru tumbuh ketika hati memiliki tempat bersandar yang benar.

Itulah mengapa zikir bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan oleh lisan. Zikir adalah cara mengembalikan hati kepada Allah ketika pikiran mulai terlalu jauh berjalan. Saat mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, atau astaghfirullah, sesungguhnya kita sedang mengingatkan diri bahwa hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Ada hal-hal yang harus kita perjuangkan. Ada pula hal-hal yang harus kita serahkan.

Hati juga perlu dibersihkan. Sebab hati yang terus menyimpan iri akan sulit menikmati nikmat. Hati yang memelihara dendam akan sulit merasakan damai. Hati yang dipenuhi kesombongan akan selalu merasa harus lebih tinggi daripada orang lain.

Karena itu, taubat bukan hanya tentang menghapus dosa, tetapi juga tentang memulihkan kebersihan hati. Istighfar mengajarkan kita untuk berhenti menyalahkan dunia dan berani memeriksa diri sendiri.

Kemudian, bacalah Al-Qur’an. Bukan hanya untuk mengejar berapa halaman yang selesai, tetapi untuk membiarkan ayat-ayatnya berbicara kepada diri kita. Bisa jadi satu ayat yang kita baca berulang kali justru menjadi jawaban atas kegelisahan yang selama ini kita sembunyikan.

Dan jangan lupa menjaga niat.

Sebab terkadang hati menjadi gelisah bukan karena kita melakukan terlalu sedikit, tetapi karena kita terlalu sibuk ingin dilihat manusia. Kita ingin dipuji, diakui, dianggap berhasil. Padahal, semakin kita menggantungkan nilai diri pada penilaian manusia, semakin mudah hati kita naik turun mengikuti ucapan mereka.

Keikhlasan membebaskan.

Ketika amal dilakukan karena Allah, pujian tidak membuat kita terbang dan celaan tidak membuat kita runtuh.

Maka menjaga hati sebenarnya bukan pekerjaan sehari dua hari. Ia adalah perjalanan seumur hidup. Setiap pagi kita perlu menatanya kembali. Setiap malam kita perlu memeriksanya: Apakah hari ini hatiku semakin dekat kepada Allah, atau justru semakin jauh?

Sebab hati manusia mudah berubah. Hari ini tenang, besok gelisah. Hari ini ikhlas, besok ingin dipuji. Hari ini memaafkan, besok kembali mengingat kesalahan orang.

Itulah sebabnya hati harus terus dirawat.

Dzikir menenangkannya. Al-Qur’an meneranginya. Taubat membersihkannya. Keikhlasan menjaganya.

Dan mungkin, ketenangan yang selama ini kita cari ke mana-mana sebenarnya tidak jauh. Ia berada di tempat yang sering kita abaikan: di dalam hati yang kembali mengingat Allah. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search