Oleh karenanya, Al-Qur’an menarasikan bahwa kehidupan orang beriman yang mengejar kebahagiaan akhirat berbeda dengan dengan mereka yang berlimpah harta daan glamor. Al-Qur’an menggambarkan hal ini sebagaimana firman-Nya :
اَفَمَنْ وَّعَدْنٰهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَا قِيْهِ كَمَنْ مَّتَّعْنٰهُ مَتَا عَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ مِنَ الْمُحْضَرِيْنَ
“Maka apakah sama orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya, dengan orang yang Kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi; kemudian pada hari Kiamat dia termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS. Al-Qasas : 61)
Kesenangan hidup tanpa spirit akhirat hanya akan melahirkan kerusakan dan kebinasaan. Allah memastikan bahwa hidup yang diisi dengan kelalaian atas akherat, dengan foya-foya akan berakhir mengenaskan.
Betapa banyak, para koruptor hidup dalam kemewahan namun hidupnya dalam tekanan publik dan dikejar bayangan penjara. Mereka harus menutupi kejahatannya agar terselamatkan dari jeratan hukum. Namun Allah lah yang membuka aibnya sehingga terbongkar dan terdeteksi kejahatannya. Keluarganya pun tak lepas dari dampak dengan memperoleh stigma buruk atas tindakan buruknya.
Sementara mereka yang beriman mengejar spirit akhirat, dan mengorientasikan hidupnya untuk meraih surga. Kemuliaan hidupnya pun terlihat saat di dunia. Hidupnya tenang dan merasa nyaman dalam lindungan-Nya. Terlebih lagi saat di akhirat, mereka merasakan kenyamanan hidup yang berkelanjutan dengan berbagai kenikmatan tanpa terputus.
Surabaya, 10 Agustus 2026.
