Hidup Miskin Jangan Salahkan Tuhan

Hidup Miskin Jangan Salahkan Tuhan
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada sebuah nasihat sederhana, tetapi dalam maknanya: hidup miskin jangan salahkan Tuhan. Kalau ingin hidup lebih baik, jangan hanya mengeluh—berusahalah, bekerja keras, dan terus berdoa.

Allah berfirman, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39). Ayat ini mengajarkan bahwa manusia diperintahkan untuk berikhtiar. Rezeki memang berada dalam ketetapan Allah, tetapi manusia tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan.

Coba kita renungkan. Setiap manusia ketika lahir ke dunia datang dalam keadaan yang sama: telanjang, tanpa membawa uang, tanpa membawa rumah, tanpa membawa harta. Tidak ada bayi yang lahir sambil menggenggam rekening bank, sertifikat tanah, atau kunci mobil. Kemudian perjalanan hidup membuat keadaan manusia berbeda-beda. Ada yang hidup berkecukupan, ada yang sederhana, dan ada pula yang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di situlah kehidupan mengajarkan kita tentang ikhtiar, kesabaran, syukur, dan kepedulian. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan pentingnya bekerja dan tidak menggantungkan hidup kepada manusia. Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari). Maka, bekerja keras bukan sesuatu yang rendah. Mencari nafkah dengan cara yang halal adalah bagian dari kemuliaan manusia.

Orang kaya jangan pelit. Sebab harta yang dimiliki bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Di dalam rezeki yang kita punya, ada kesempatan untuk membantu orang lain. Ada tangan yang membutuhkan uluran, ada perut yang harus dikenyangkan, ada anak yang membutuhkan pendidikan, dan ada orang tua yang membutuhkan perhatian.

Allah berfirman, “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka pahalanya untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 272). Harta bukan sekadar angka yang disimpan dan terus ditumpuk. Harta akan jauh lebih bernilai ketika menjadi manfaat.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tangan di atas adalah tangan yang memberi. Maka ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya beli?” Sesekali bertanyalah, “Siapa yang bisa saya bantu dengan rezeki ini?”

Namun kepada mereka yang sedang miskin dan mengalami kesulitan, jangan pula berputus asa. Jangan berhenti berdoa, tetapi jangan berhenti berusaha. Allah sendiri melarang manusia berputus asa dari rahmat-Nya: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).

Doa dan usaha seharusnya berjalan bersama. Doa bukan alasan untuk berhenti bergerak, dan usaha bukan alasan untuk melupakan Allah. Bangun ketika kesempatan datang. Belajar ketika belum memiliki kemampuan. Bekerja ketika ada pekerjaan. Menciptakan peluang ketika belum ada pekerjaan. Jangan malu memulai dari bawah.

Tidak semua orang langsung berhasil. Banyak orang harus jatuh berkali-kali sebelum akhirnya berdiri lebih kuat. Karena itu, ketika kehidupan terasa berat, jangan buru-buru berkata, “Tuhan tidak adil kepadaku.” Bisa jadi yang sedang diuji bukan hanya kesabaran kita, tetapi juga kemauan kita untuk bergerak, belajar, dan memperbaiki diri.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan membutuhkan usaha. Jangan menunggu kehidupan berubah sementara diri sendiri tidak pernah mau berubah.

Dan ketika suatu hari kita diberi kelapangan rezeki, jangan lupa bagaimana rasanya berada di bawah. Sebab roda kehidupan terus berputar. Hari ini kita mungkin membutuhkan bantuan, besok mungkin kita yang diberi kemampuan untuk membantu.

Yang kaya, jangan pelit. Yang miskin, jangan putus doa. Yang sedang berjuang, jangan menyerah. Yang sedang berhasil, jangan sombong.

Sebab semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah amanah. Allah mengingatkan, “Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kekikiran itu baik bagi mereka. Sebenarnya kekikiran itu buruk bagi mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 180).

Harta yang hanya disimpan dan membuat hati semakin keras bukanlah keberhasilan yang sesungguhnya. Harta akan menjadi lebih berarti ketika dengannya kita bisa membuat orang lain tersenyum, membantu keluarga, menolong yang lemah, membuka lapangan pekerjaan, memberi makan orang yang lapar, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, semua manusia datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Ketika meninggalkan dunia, kita pun tidak membawa harta benda yang selama ini kita kumpulkan. Yang kita bawa adalah amal.

Maka jangan sombong ketika kaya. Jangan putus asa ketika miskin. Jangan malas ketika sedang kekurangan. Dan jangan lupa berbagi ketika Allah telah memberikan kelapangan.

Hidup miskin jangan salahkan Tuhan. Mau hidup lebih baik, banting tulang. Mau hati tetap kuat, jangan tinggalkan doa. Dan ketika sudah diberi harta, jangan hanya disimpan—jadikan ia jalan untuk berbagi dan memberi manfaat.

Sebab mungkin saja rezeki yang kita gunakan untuk menolong seseorang hari ini justru menjadi salah satu amal yang menyelamatkan kita di kemudian hari.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Berdoalah dengan penuh keyakinan. Bersyukurlah atas apa yang dimiliki. Dan ketika Allah memberikan kelebihan, jangan lupa berbagi.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan yang menentukan nilai hidup kita, tetapi seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search