Indonesia Pernah Melahirkan Generasi Tauhid

Indonesia Pernah Melahirkan Generasi Tauhid
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Bangsa ini sesungguhnya pernah melahirkan manusia-manusia besar. Mereka tidak hanya meninggalkan jabatan, tetapi juga meninggalkan keteladanan. Mereka tidak sekadar cerdas, tetapi memiliki integritas. Mereka tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan mengabdikan ilmu, kekuasaan, dan seluruh hidupnya demi agama, bangsa, dan kemanusiaan. Mohammad Natsir, Buya Hamka, Kasman Singodimedjo, Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Mohammad Roem, A.R. Fakhruddin, Panglima Besar Jenderal Soedirman, dan banyak tokoh lainnya menjadi saksi bahwa Indonesia pernah memiliki generasi pemimpin dengan kualitas moral yang luar biasa.

Pertanyaannya, dari mana lahir manusia-manusia seperti itu?

Jawabannya mungkin tidak cukup dicari pada organisasi tempat mereka berjuang, jabatan yang mereka emban, ataupun situasi politik yang mereka hadapi. Akar persoalannya lebih dalam: cara mereka memperoleh, memahami, dan memaknai kebenaran. Dengan kata lain, persoalannya adalah epistemologi.

Inilah perspektif yang ditawarkan dalam Seri Epistemologi Qurani. Krisis terbesar umat bukan pertama-tama krisis politik, ekonomi, ataupun teknologi, melainkan krisis epistemologi. Ketika wahyu tidak lagi menjadi pusat cara mengetahui, manusia kehilangan standar kebenaran. Dari sinilah lahir berbagai penyimpangan dalam cara berpikir, termasuk ketika slogan yang benar dipahami dengan kerangka yang keliru. Dalam Seri 4 dijelaskan bagaimana persoalan Khawarij bukan terletak pada semangat menegakkan hukum Allah, tetapi pada kesalahan memahami hubungan antara wahyu, akal, dan realitas sejarah. Kesalahan epistemologis itu kemudian berkembang menjadi penyimpangan ideologis.

Karena itu, membangun peradaban tidak dapat dimulai dari perdebatan politik semata. Peradaban harus dibangun dari cara berpikir. Iqra’ sebagai fondasi epistemologi membentuk manusia yang mampu membaca ayat-ayat Allah dengan benar. Tauhid menjadi orientasi seluruh pengetahuan. Worldview Wahyu menjadi paradigma dalam memahami realitas. Krisis epistemologi dikenali agar penyimpangan tidak terus berulang. Dari proses itulah lahir Ulul Albab, yaitu Generasi Tauhidik yang siap mengemban amanah kekhalifahan.

Mungkin inilah benang merah yang dapat membantu kita membaca kembali sejarah bangsa. Tokoh-tokoh besar itu memberi indikasi bahwa Indonesia pernah melahirkan manusia-manusia yang berpikir dalam cahaya wahyu. Mereka hidup bukan untuk membesarkan dirinya, tetapi untuk mengabdi kepada Allah dengan menghadirkan kemaslahatan bagi manusia. Ilmu menjadi amanah. Kekuasaan menjadi tanggung jawab. Kepemimpinan menjadi ibadah.

Karena itu, pekerjaan terbesar pendidikan Islam hari ini bukan sekadar mencetak lulusan yang cerdas, melainkan menghidupkan kembali epistemologi Qurani. Sebab hanya dengan memperbaiki cara mengetahui, manusia akan memperbaiki cara memandang. Dari cara memandang lahir karakter. Dari karakter lahir pemimpin. Dan dari para pemimpin itulah akan lahir Peradaban Tauhidik. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search