Kader Muhammadiyah Berjiwa Ribbiyyun

Kader Muhammadiyah Berjiwa Ribbiyyun
*) Oleh : Usep Supriatna
Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jabar
www.majelistabligh.id -

Muhammadiyah menisbahkan dirinya sebagai pengikut Muhammad. Oleh karena itu, secara spiritual, menjadi Muhammadiyah seharusnya berarti berusaha menghadirkan nilai-nilai yang dibawa Nabi Muhammad saw dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan perjuangan dakwah.

Dari QS. Āli ‘Imrān ayat 146, disebutkan bahwa kebanyakan pengikut Nabi Muhammad saw itu adalah kaum Ribbiyyūn.
“Betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(-nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.”

Kata Ribbiyyūn berkaitan dengan rabbānī—orang-orang yang memiliki kedekatan, penghambaan, dan keterikatan yang kuat kepada Allah. Mereka adalah pengikut nabi yang memiliki kualitas iman dan ketakwaan, sehingga ketika menghadapi ujian berat, mereka tidak kehilangan arah.

Dengan demikian, Ribbiyyūn bukan sekadar “pengikut Nabi” secara identitas, tetapi pengikut yang memiliki kualitas ruhani dan loyalitas terhadap risalah

Bila secara utuh kita menelisik QS. Āli ‘Imrān 146–148, maka kita dapat mengambil 7 karakter Ribbiyyūn yang sangat relevan bagi kader dan warga Muhammadiyah.

Pertama, Ribbiyyūn memiliki iman yang melahirkan keteguhan
Dalam QS. Ali Imran : 146 itu, Ribbiyun itu bercirikan :
• tidak kehilangan semangat atau mentalnya (wa ma wahanu).
• tidak menjadi lemah (wa ma dha’ufu)
• tidak tunduk menyerah kepada tekanan (wa ma istakanu)

Bagi kader Muhammadiyah, ini berarti istiqamah dalam dakwah dan amal kebajikan, meskipun hasilnya tidak selalu segera terlihat.
Jangan menjadi kader Muhammadiyah hanya ketika suasana nyaman. Jadilah kader Muhammadiyah ketika menghadapi tantangan, perbedaan, kritik, keterbatasan, bahkan ketika perjuangan terasa sepi. Maka menjadi kader Muhammadiyah yang Ribbiyyūn tidak mudah lelah karena perjuangannya berorientasi kepada Allah, bukan kepada tepuk tangan manusia.

Kedua, Ribbiyyūn menjadikan kesabaran sebagai kekuatan
Allah menegaskan: “Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
Muhammadiyah membutuhkan kader yang sabar dalam berjuang, bukan hanya kader yang pandai mengkritik. Sabar mendidik generasi, sabar mengurus persyarikatan, sabar melayani umat, sabar menghadapi perbedaan, sabar menjaga ukhuwah.
Sebab, gerakan besar tidak dibangun oleh orang-orang yang cepat bosan, tetapi oleh orang-orang yang kokoh kesabarannya.

Ketiga, ribbiyyūn selalu melakukan muhasabah
Doa mereka sangat indah :“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami.”
Ini pelajaran yang sangat penting. Ketika terjadi persoalan dalam persyarikatan, jangan selalu bertanya : “Siapa yang salah?” tetapi seorang Ribbiyyūn selalu bertanya : “Apa yang harus saya perbaiki?” Inilah ruh tazkiyatun nafs.
Muhammadiyah yang besar secara organisasi harus diimbangi dengan jiwa kader yang bersih, yakni ikhlas, tawadhu, tidak haus jabatan, tidak mudah tersinggung, tidak merasa paling benar dan tidak menjadikan perjuangan sebagai jalan mencari kepentingan pribadi.

Keempat, Ribbiyyūn selalu memohon keteguhan, bukan sekadar kemenangan
Doa berikutnya adalah “Teguhkanlah langkah kami.”
Perhatikan, mereka meminta keteguhan hati sebelum kemenangan. Ini sangat relevan bagi kader Muhammadiyah. Yang pertama harus kita bangun bukan sekadar organisasi yang besar, tetapi jiwa kader yang kokoh. Bukan hanya banyak amal usaha, tetapi banyak amal saleh. Bukan hanya banyak kader, tetapi banyak kader yang Ikhlas dan bukan hanya banyak kegiatan, tetapi banyak kebaikan yang benar-benar dirasakan umat.

Kelima, Ribbiyyūn menjadikan perjuangan sebagai ibadah
Mereka selalu memohon pertolongan Allah dalam perjuangan. Artinya, perjuangan mereka tidak berdiri sendiri. Mereka sadar bahwa manusia berikhtiar, Allah yang memberikan pertolongan. Inilah yang harus menjadi ruh Islam Berkemajuan : ilmu, amal, profesionalitas dan kemajuan harus selalu bertemu dengan ketauhidan dan keikhlasan.
Seorang guru Muhammadiyah mengajar bukan sekadar menjalankan pekerjaan, seorang pengurus Muhammadiyah berorganisasi bukan sekadar menjalankan jabatan dan juga seorang mubalig berdakwah bukan sekadar menyampaikan ceramah. Tetapi semuanya harus menjadi ibadah dan pengabdian kepada Allah.

Keenam, Ribbiyyūn berujung pada Ihsan
Ayat 148 ditutup dengan kalimat ; “Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”
Tujuan akhir dari perjalanan Ribbiyyūn bukan hanya menjadi orang yang aktif, tetapi menjadi muhsin, yaitu orang yang menghadirkan kualitas terbaik dalam amalnya karena merasa selalu berada dalam pengawasan Allah.

Ketujuh, Ribbiyyūn mewarisi perjuangan Nabi, bukan hanya namanya
Inilah titik paling penting. Menjadi Muhammadiyah jangan berhenti pada ungkapan, “Saya orang Muhammadiyah.” Tetapi harus bergerak menjadi, “Saya sedang berusaha menjadi pengikut Muhammad ﷺ.”
Konsekuensi menjadi pengikut Nabi bukan sekadar mencintai namanya, tetapi menghidupkan nilai-nilai risalahnya: tauhid, kejujuran, kasih sayang, keadilan, ilmu, keberanian, kesabaran, kepedulian kepada kaum lemah, dan perjuangan menegakkan kebaikan.

Kader Muhammadiyah adalah seorang Ribbiyyūn, yakni pribadi yang memiliki kedalaman iman, keteguhan, kesabaran, ketakwaan dan keikhlasan dalam meneruskan risalah tersebut. Dan puncaknya seorang Ribbiyyūn adalah Muhsinun, yakni menjadi manusia yang baik amalnya, bersih jiwanya dan bermanfaat bagi sesama.

Jangan hanya menjadi orang yang berada di dalam barisan Muhammadiyah, tetapi jadilah orang yang memiliki jiwa perjuangan Muhammadiyah. Jangan hanya mengaku sebagai pengikut Muhammad, tetapi jadilah manusia yang akhlaknya mencerminkan ajaran Muhammad. Dan jangan hanya aktif dalam gerakan, tetapi tumbuhkan dalam diri kita jiwa Ribbiyyūn—jiwa yang tidak lemah ketika diuji, tidak menyerah ketika berjuang, selalu bermuhasabah ketika salah, memohon keteguhan kepada Allah, dan terus berbuat ihsan hingga akhir hayat.

Sebab Muhammadiyah yang kuat bukan hanya dibangun oleh organisasi yang besar, tetapi oleh manusia-manusia yang jiwanya besar karena dekat dengan Allah.
Wallahu a’lam bishshawwab. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search