Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Syafig A Mughni, MA menyampaikan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Isu Islamophobia tersebar di berbagai negara. Islamophobia adalah rasa takut, benci, prasangka, atau diskriminasi terhadap agama Islam dan umat Muslim.
Fenomena ini sering kali berakar dari ketidaktahuan, misinformasi, distorsi media, dan narasi politik yang memecah belah. Islamophobia menjadikan orang takut pada agama Islam, hak asasi dijadikan dasar pembenaran, dan mereka yang teguh memegang agama dimusuhi dan dimarginalkan.
“Muhammadiyah ikut berjuang meluruskan prasangka yang tidak benar ini sehingga pada akhirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memandang Islamophobia sebagai rasisme nyata yang melanggar hak asasi manusia dan menyatakan akan memerangi Islamophobia guna meningkatkan kesadaran global,” papar tokoh Islam, akademisi dan cendekiawan Muslim terkemuka Indonesia ini pada Pengajian Ahad Pagi, 14 Zulhijjah 1447 H yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Candi Sidoarjo.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Syafig menyampaikan update atau perkembangan terbaru dari internasionalisasi Muhammadiyah. Kini telah terbentuk 31 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri. Muhammadiyah juga telah menambah pendirian kampus baru di luar negeri. Selain di Malaysia juga telah berdiri Universitas Muhammadiyah di Melbourne.
“Dalam dunia pendidikan, telah berdiri Universitas Muhammadiyah di Melbourne, Australia,” lanjutnya.
Tahun pertama berdiri, semua biaya ditanggung oleh Muhammadiyah. Tahun kedua, biaya operasional ditanggung oleh pemerintah Australia. Tahun ketiga, selain biaya operasional yang ditanggung oleh pemerintah Australia, Muhammadiyah juga menerima hibah tanah dari pemerintah Australia untuk pengembangan kampus. Hal ini karena Universitas Muhammadiyah di Melbourne telah membantu kelancaran pendidikan di sana.
Muhammadiyah pun ikut andil dalam membangun tata dunia baru. Prof. Syafigh, demikian panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa Muhammadiyah berjasa besar dalam meredakan pertikaian antara Muslim Moro dengan pemerintah Filipina sehingga Bangsamoro di Mindanao , Filipina Selatan ini bebas dari tekanan. Mereka menjadi propinsi dengan otonomi khusus. (Nana Liesdiana)
