“Perempuan itu unik.” Kalimat itu mungkin menjadi salah satu ungkapan yang paling sering kita dengar. Ada yang mengatakan perempuan mudah tersinggung, suka ngambek, penuh perasaan, sulit ditebak, bahkan sering membuat laki-laki kebingungan. Sebagian menganggapnya sekadar candaan, sebagian lagi menjadikannya stereotip yang terus diwariskan. Namun, benarkah perempuan sesederhana itu untuk dinilai? Atau justru kitalah yang terlalu cepat memberi label tanpa benar-benar memahami isi hati, perjuangan, dan keteguhan seorang perempuan?
Al-Qur’an menghadirkan cara pandang yang berbeda. Kitab suci ini tidak pernah mengukur kemuliaan perempuan dari penampilan, emosi, ataupun anggapan masyarakat. Sebaliknya, Al-Qur’an menghadirkan kisah-kisah perempuan dengan karakter yang beragam sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia. Ada perempuan yang menjadi teladan karena imannya, ada yang dikenang karena kebijaksanaannya, dan ada pula yang dijadikan peringatan agar manusia tidak merasa aman hanya karena status atau kedekatannya dengan orang saleh.
Tokoh pertama adalah Maryam binti Imran, sosok perempuan yang namanya diabadikan sebagai nama sebuah surah dalam Al-Qur’an. Maryam bukan hanya dikenal sebagai ibu Nabi Isa a.s., tetapi juga sebagai lambang kesucian, keteguhan, dan kepasrahan kepada Allah.
*وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا*
Ungkapan singkat dalam Surah At-Tahrim tersebut menggambarkan bagaimana Maryam menjaga kehormatan dirinya. Ia harus menghadapi ujian yang sangat berat, menerima tuduhan masyarakat, serta menjalani takdir yang tidak pernah dibayangkannya. Namun, ia tidak membalas celaan dengan kebencian. Ia memilih bersabar dan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah. Dari Maryam, kita belajar bahwa perempuan yang kuat bukanlah perempuan yang tidak pernah menangis, melainkan perempuan yang tetap berdiri teguh ketika dunia meragukan dirinya.
Di tengah kehidupan modern, kisah Maryam terasa semakin relevan. Banyak perempuan menghadapi tekanan sosial, standar kecantikan yang tidak realistis, hingga penilaian yang sering kali lebih menyoroti penampilan daripada kemampuan. Maryam mengajarkan bahwa kemuliaan seorang perempuan tidak lahir dari pujian manusia, tetapi dari ketulusan menjaga iman, kehormatan, dan integritas diri.
Tokoh berikutnya adalah Asiyah, istri Fir’aun. Barangkali inilah salah satu paradoks terbesar dalam Al-Qur’an. Ia hidup di istana yang megah, memiliki kekuasaan, harta, dan kedudukan, tetapi semua itu tidak membuatnya meninggalkan keimanan kepada Allah.
*رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ*
Doa singkat Asiyah dalam Surah At-Tahrim menjadi simbol kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya. Ia tidak meminta istana yang lebih besar atau kekuasaan yang lebih tinggi. Yang dimintanya hanyalah sebuah rumah di sisi Allah di surga. Doa itu menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari kenyamanan dunia, melainkan dari kedekatan kepada Sang Pencipta. Asiyah membuktikan bahwa lingkungan yang buruk tidak harus menghancurkan iman seseorang.
Perempuan ketiga yang diperkenalkan Al-Qur’an adalah Ratu Bilqis. Berbeda dengan Maryam dan Asiyah, Bilqis dikenal sebagai seorang pemimpin yang cerdas. Ia tidak tergesa-gesa mengambil keputusan dan lebih memilih bermusyawarah sebelum bertindak.
*إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي*
Kalimat pengakuan Bilqis setelah menerima kebenaran dari dakwah Nabi Sulaiman menunjukkan kebesaran jiwanya. Tidak semua pemimpin mampu mengakui kekeliruan. Bilqis mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukan sekadar kemampuan memimpin, tetapi juga keberanian meninggalkan kesalahan ketika kebenaran telah tampak jelas. Kerendahan hati sering kali menjadi tanda kebijaksanaan yang sesungguhnya.
Di era sekarang, perempuan semakin banyak mengambil peran sebagai akademisi, pemimpin, profesional, wirausaha, dan penggerak masyarakat. Kisah Bilqis mengingatkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak diukur dari kerasnya suara atau tingginya jabatan, melainkan dari kebijaksanaan, kemampuan mendengar, dan keberanian memilih jalan yang benar.
Namun, Al-Qur’an juga menghadirkan kisah yang menjadi peringatan. Istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth hidup bersama nabi-nabi pilihan Allah, tetapi kedekatan itu tidak membuat mereka beriman.
*ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا*
Melalui kisah mereka, Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diwariskan oleh hubungan keluarga. Menjadi istri orang saleh, anak tokoh agama, atau berasal dari keluarga yang baik bukanlah jaminan keselamatan. Yang menentukan adalah pilihan, keimanan, dan amal setiap individu. Pesan ini sangat penting di tengah kecenderungan manusia menilai seseorang dari latar belakangnya, bukan dari integritas pribadinya.
Jika dicermati, keempat perempuan ini memiliki jalan hidup yang sangat berbeda. Maryam mengajarkan kesucian, Asiyah menunjukkan keteguhan iman, Bilqis memperlihatkan kebijaksanaan dalam menerima kebenaran, sedangkan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan orang saleh tidak berarti apa-apa tanpa keimanan. Al-Qur’an tidak menyeragamkan perempuan; justru menampilkan keragaman karakter yang sarat hikmah.
Mungkin benar perempuan itu unik. Mereka bisa lembut sekaligus tegar, penuh kasih tetapi tetap berani, mudah tersentuh namun tidak mudah menyerah. Akan tetapi, keunikan itu bukan alasan untuk memberi cap bahwa perempuan “sulit dimengerti”. Barangkali yang perlu diperbaiki bukanlah perempuan, melainkan cara kita memandang dan memahami mereka. Terlalu sering kita menilai perempuan dari emosi sesaat, padahal Al-Qur’an mengajak melihat kualitas hati, keteguhan iman, kecerdasan, dan pilihan hidupnya.
Pada akhirnya, kisah-kisah perempuan dalam Al-Qur’an bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin bagi siapa pun, baik perempuan maupun laki-laki. Sebab, kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan. Ketika masyarakat sibuk memberi label kepada perempuan, Al-Qur’an justru mengajak kita melihat sesuatu yang jauh lebih penting: karakter, iman, dan keberanian untuk memilih jalan yang benar. Mungkin itulah sebabnya perempuan selalu tampak istimewa—bukan karena mereka sulit dipahami, tetapi karena setiap perempuan menyimpan cerita perjuangan yang hanya benar-benar dimengerti oleh Allah. (*)
