Pernah nggak sih…
hidup kita sebenarnya baik-baik saja,
tapi tiba-tiba terasa kurang… setelah melihat hidup orang lain?
Scroll sebentar di sosial media,
lihat pencapaian, kebahagiaan, dan kehidupan yang terlihat “lebih baik”—dan tanpa sadar muncul perasaan:
“Kok hidupku nggak kayak mereka ya?”
Di era sekarang, hal ini bukan sesuatu yang aneh.
Kita hidup di lingkungan yang membuat kita terus melihat kehidupan orang lain, setiap hari.
Masalahnya, yang kita lihat bukan realita utuh.
Hanya bagian terbaiknya saja.
Dalam kajian neurosains dan psikologi, ada istilah social comparison—kecenderungan alami manusia untuk membandingkan dirinya dengan orang lain.
Otak menggunakan perbandingan ini untuk menilai posisi diri.
Namun jika berlebihan, justru menimbulkan rasa tidak puas.
Sebuah penelitian pada remaja pengguna media sosial menunjukkan bahwa semakin sering seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin besar kemungkinan ia merasa tidak puas terhadap dirinya. (Jurnal Psikohumaniora, Peran Syukur sebagai Moderator Pengaruh Perbandingan Sosial terhadap Self-Esteem pada Remaja Pengguna Media Sosial)
Dalam Islam, kondisi ini telah dijelaskan dengan solusi yang sangat mendalam, yaitu syukur. Allah berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Artinya, Islam tidak hanya memerintahkan untuk bersyukur,
tetapi juga menjelaskan bahwa rasa cukup itu tumbuh dari cara hati memandang nikmat.
Jika dilihat dari sisi ilmiah dan spiritual, rasa “tidak cukup” bukan semata karena kurangnya sesuatu dalam hidup.
Tetapi karena otak yang terbiasa membandingkan dan hati yang belum terlatih untuk mensyukuri
Maka mungkin,
yang perlu kita ubah bukan hidup kita.
Tapi cara kita melihat hidup itu sendiri.
Karena cukup,
tidak selalu datang dari apa yang kita miliki,
tapi dari bagaimana kita memaknainya.
Semoga Allah selalu berikan hati yang qonaah kepada kita, aamiin.
