Ketika secercah petunjuk kebenaran dipandang tak membawa keuntungan duniawi, maka langsung terdegradasi. Bahkan tidak sedikit manusia memandang petunjuk dengan sebelah mata lalu karena tenggelam oleh keuntungan dunia.
Perkataan para pemilik kekayaan yang bergelimang harta seringkali lebih mempesona daripada petunjuk Al-Qur’an. Padahal pemilik harta justru menggiring untuk merusak dirinya ke arah kebinasaan. Meski disadari bersifat sementara dan fana, namun sulit bagi hati yang goyah menerima fitnahnya. Dengan kata lain, kenikmatan dunia seperti harta, jabatan, dan fasilitasnya memang mempesona siapapun hingga rela menghempaskan petunjuk yang datang.
Godaan Dunia
Manusia lebih tergugah dan tertarik untuk menambatkan dirinya ke dalam kenikmatan sesaat ketimbang merespon petunjuk yang akan memuliakan dirinya. Godaan dunia benar-benar menutup pintu petunjuk dan menukarnya dengan kenikmatan duniawi. Seorang pedagang berani curang dengan mencuri timbangan demi keuntungan sesaat. Seorang pejabat negara berani meloloskan undang-undang miras dan perjudian demi memperkaya diri dan mempertahankan jabatannya. Bahkan rakyatnya rela menerima suap dari calon pemimpin yang tak memiliki kapasitas.
Fenomena di atas menggambarkan keberanian melanggar dan menabrak aturan demi mendapatkan keuntungan sesaat. Dengan kata lain, mereka mau menjual jalan yang lurus ditukar dengan jalan gelap dan menyesatkan. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الضَّلٰلَةَ بِا لْهُدٰى ۖ فَمَا رَبِحَتْ تِّجَا رَتُهُمْ وَمَا كَا نُوْا مُهْتَدِيْنَ
“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 16)
Contoh sederhana dapat dilihat respon manusia untuk membaca Al-Qur’an begitu malas dan bahkan enggan namun ketika diajak bekerja hingga larut tengah malam atau bekerja saat dini hari, dengan imbalan duit maka bersemangat menjalankannya. Demikian pula ketika diajak shalat malam dengan janji akan mendapat kedudukan tinggi justru diabaikan, dan lebih memilih nonton pertandingan sepakbola dunia.
Manusia sebenarnya telah mengenal petunjuk, tetapi justru memilih jalan yang bertentangan dengannya nuraninya. Hal ini karena tergiur dunia dan memperturutkan hawa nafsunya. Allah menyebut pilihan itu sebagai perdagangan yang merugi, sebab keuntungan dunia yang sementara ditukar dengan kerugian yang kekal yang bernuansa akherat.
Melempar Petunjuk
Manusia yang rela menukar petunjuk dengan kenikmatan karena tergiur oleh pesona dunia. Pesona dunia nampak dan langsung bisa dirasakan, sementara petunjuk dipandang sebagai fenomena abstrak, sehingga mencampkannya. Sedemikian mudahnya manusia menukar petunjuk karena manusia menginginkan sesuatu yang instan dan berifat jangka pendek.
Al-Qur’an mempersonifikasikan bahwa ketika ada manusia yang memiliki kekayaan dan berlimpah harta, omongannya menggiurkan. Hidupnya yang penuh dengan kemewahan dengan berbagai fasilitas hidupnya menggiurkan bagi orang lain. Ketika tergiur dan terperangah itulah maka apapun yang dikatakan dianggap kebenaran. Kondisi psikologis seperti ini, seluruh pembicaraannya dibenarkan. Padahal perkataannya jauh dari nilai-nilai kebenaran.
Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَا مِ
“Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah : 204)
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kefasihan berbicara, kemewahan penampilan, dan besarnya kekayaan bukanlah ukuran kebenaran. Ada orang yang tutur katanya memikat, logikanya mengagumkan, bahkan sumpah dan ucapannya seolah menunjukkan kesalehan. Akan tetapi, ketika petunjuk Allah bertentangan dengan kepentingan dunia yang dimilikinya, petunjuk itu justru dilemparkan dan disingkirkan. Magnet kekayaan dunia mengalahkan cahaya wahyu.
Fenomena seperti ini telah muncul sejak masa Nabi Muhammad. Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh kaum munafik hampir diangkat sebagai pemimpin di kota Madinah. Kedatangan Rasulullah mengubah peta kepemimpinan tersebut sehingga ambisi politiknya tidak terwujud. Secara lahiriah ia menyatakan diri sebagai Muslim, tetapi dalam berbagai kesempatan berusaha melemahkan persatuan kaum Muslim. Dia berani menyebarkan fitnah, menghasut masyarakat, untuk membenci nabi. Kedudukan sosial dan kepentingan dunia menjadi penghalang baginya untuk tunduk sepenuhnya kepada petunjuk Allah.
Saat ini juga terjadi, dimana banyak pihak mengetahui nilai keadilan, amanah, kejujuran, dan keberpihakan kepada kebenaran, namun justru mengabaikannya. Mereka tidak menjalankannya karena tidak mendapatkan kekayaan, keuntungan ekonomi, yang banyak. Mereka pun berani berbuat culas, curang agar kekayaannya melimpah tanpa tersentuh melihat kehidupan masyarakat yang serba kekurangan.
Seorang mukmin tidak boleh tertipu oleh kemegahan harta, kefasihan lisan, ataupun besarnya pengaruh seseorang. Ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah kekayaan, melainkan ketakwaan dan kesetiaan kepada petunjuk-Nya. Harta adalah amanah yang dapat menjadi sarana menegakkan agama, tetapi juga dapat berubah menjadi fitnah apabila dijadikan alasan untuk meminggirkan kebenaran. Mereka yang menjual petunjuk demi keuntungan dunia mungkin memperoleh pujian manusia untuk sementara, tetapi Al-Qur’an menegaskan bahwa perdagangan mereka tidak akan pernah membawa keberuntungan di sisi Allah.
Surabaya, 7 Juli 2026
