Kadang-kadang, ukuran cinta tidak tampak dari apa yang kita ucapkan, tetapi dari apa yang sanggup kita lepaskan.
Seorang ibu mungkin tidak pernah berkata panjang tentang pengorbanan. Tetapi setiap pagi ia bangun lebih awal, menyiapkan kebutuhan keluarga, memastikan anak-anaknya berangkat dengan doa, lalu menyimpan lelahnya sendiri di sudut hati. Seorang ayah mungkin tidak pandai menasihati dengan kata-kata indah. Tetapi ia bekerja diam-diam, menahan banyak keinginan pribadi, agar keluarganya tetap berdiri tegak. Seorang guru mungkin tidak dikenal luas. Tetapi ia terus mengajar, menuntun, dan menyalakan cahaya ilmu pada anak-anak yang kelak mungkin melampaui dirinya.
Di sanalah tadhhiyah hidup.
Tadhhiyah berarti pengorbanan. Namun ia bukan sekadar kehilangan sesuatu. Ia adalah kesediaan memberi yang terbaik karena ada cinta yang lebih besar di dalam dada. Dalam Islam, pengorbanan tidak lahir dari keputusasaan, tetapi dari harapan. Tidak tumbuh dari kebencian terhadap dunia, tetapi dari kesadaran bahwa dunia harus diarahkan kepada Allah.
Al-Qur’an mengingatkan dalam QS. At-Taubah [9]: 111 bahwa Allah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan surga. Ayat ini mengajarkan bahwa hidup seorang mukmin bukanlah hidup yang dibiarkan berjalan tanpa arah. Diri, harta, waktu, dan kemampuan yang kita miliki adalah amanah. Semuanya akan menemukan nilai tertingginya ketika dipersembahkan untuk kebaikan.
Tetapi kita hidup di zaman yang tidak selalu ramah terhadap pengorbanan. Banyak hal mengajak kita untuk mencintai kenyamanan secara berlebihan. Kita diajak mengejar yang cepat, mudah, menyenangkan, dan menguntungkan diri sendiri. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk layar kecil di tangan, tetapi merasa berat menghadiri majelis ilmu. Kita mudah membeli sesuatu yang tidak terlalu dibutuhkan, tetapi berpikir panjang ketika hendak bersedekah. Kita sering ingin umat menjadi lebih baik, tetapi diam-diam berharap orang lain saja yang memulai.
Maka tadhhiyah mengajak kita bercermin.
Benarkah kita mencintai Allah jika waktu terbaik selalu habis untuk selain-Nya? Benarkah kita mencintai dakwah jika tenaga yang tersisa pun enggan kita berikan? Benarkah kita ingin perubahan jika hidup kita tidak pernah berubah dari sekadar mengeluh menjadi ikut berbuat?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa menusuk. Tetapi kadang hati memang perlu diketuk agar tidak tertidur terlalu lama.
Tadhhiyah tidak selalu harus besar dan heroik. Ia bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan ikhlas. Menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama. Mengurangi kesenangan pribadi agar bisa mendukung kegiatan dakwah. Meluangkan waktu untuk belajar agama. Menahan lisan dari komentar yang melukai. Mengalah demi menjaga persaudaraan. Datang ke masjid bukan hanya ketika ada acara besar, tetapi juga ketika masjid membutuhkan jamaah yang menghidupkannya.
Tadhhiyah juga berarti berani memperbaiki diri. Sebab pengorbanan pertama yang sering paling sulit adalah mengorbankan ego. Kita ingin dihargai, tetapi dakwah mengajarkan keikhlasan. Kita ingin menang sendiri, tetapi ukhuwah mengajarkan kelapangan. Kita ingin selalu dimengerti, tetapi perjuangan mengajarkan kesabaran. Kita ingin segera melihat hasil, tetapi amal saleh sering meminta ketekunan panjang.
Di sinilah tadhhiyah menjadi jalan pendidikan jiwa. Ia melembutkan hati yang keras, melapangkan dada yang sempit, dan menundukkan keakuan yang terlalu besar. Orang yang belajar berkorban akan pelan-pelan memahami bahwa hidup bukan hanya tentang mengambil, tetapi juga memberi; bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga mengabdi.
Dalam QS. At-Taubah [9]: 24, Allah mengingatkan agar keluarga, harta, usaha, dan tempat tinggal yang kita cintai tidak mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pesan ayat ini sangat dalam. Islam tidak meminta kita membenci keluarga atau meninggalkan kehidupan dunia. Justru Islam mengajarkan agar keluarga, harta, pekerjaan, dan rumah menjadi jalan menuju ridha Allah. Yang dilarang adalah ketika semua itu menguasai hati hingga kita kehilangan keberanian untuk taat.
Maka pengorbanan yang benar bukan pengorbanan yang membuat kita lalai dari tanggung jawab, melainkan yang membuat hidup lebih tertata. Bukan yang merusak, melainkan yang memperbaiki. Bukan yang membuat wajah agama tampak keras, melainkan yang menjadikan Islam terasa hangat, menenteramkan, dan membawa rahmat.
Hari ini umat membutuhkan tadhhiyah yang menyejukkan. Pengorbanan yang melahirkan kepedulian sosial. Pengorbanan yang menghidupkan dakwah dengan hikmah. Pengorbanan yang membuat orang miskin merasa diperhatikan, anak muda merasa dibimbing, keluarga merasa dikuatkan, dan masyarakat merasa disinari.
Tidak semua orang mampu memberi banyak harta. Tetapi semua orang bisa memberi sesuatu. Ada yang memberi ilmu. Ada yang memberi waktu. Ada yang memberi tenaga. Ada yang memberi senyum dan keramahan. Ada yang memberi doa dalam sunyi. Ada yang memberi teladan dengan hidup yang jujur. Di hadapan Allah, kecil dan besar bukan hanya soal jumlah, tetapi soal keikhlasan.
Barangkali perubahan besar yang kita impikan tidak dimulai dari panggung yang megah. Mungkin ia dimulai dari rumah yang lebih sering terdengar tilawah. Dari ayah yang lebih lembut kepada keluarganya. Dari ibu yang lebih sabar mendidik anak-anaknya. Dari pemuda yang berani meninggalkan kebiasaan sia-sia. Dari jamaah yang mulai peduli pada masjidnya. Dari seseorang yang hari ini memutuskan: “Aku harus menjadi bagian dari kebaikan.”
Itulah ruh tadhhiyah, mengubah cinta menjadi tindakan.
Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup bercahaya bukanlah semua yang berhasil kita simpan, tetapi kebaikan yang rela kita berikan. Harta akan berpindah tangan. Waktu akan berlalu. Tubuh akan melemah. Pujian manusia akan menghilang. Tetapi pengorbanan yang ikhlas karena Allah tidak akan sia-sia.
Maka mari mulai dari yang sanggup kita lakukan hari ini. Sedikit lebih peduli. Sedikit lebih disiplin. Sedikit lebih dermawan. Sedikit lebih sabar. Sedikit lebih dekat kepada Allah. Dari pengorbanan kecil yang dijaga terus-menerus, Allah dapat menumbuhkan perubahan besar dalam diri, keluarga, umat, dan bangsa.
Tadhhiyah bukan sekadar tentang berani kehilangan. Ia adalah tentang menemukan makna hidup yang lebih tinggi, bahwa kita diciptakan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk beribadah kepada Allah dan menjadi manfaat bagi sesama. (*)
