Ketika Jas Putih Memasuki Ruang Digital: Aristoteles, KODEKI dan Kasus dr Elda Putri Rahardini

Ketika Jas Putih Memasuki Ruang Digital: Aristoteles, KODEKI, dan Kasus dr. Elda Putri Rahardini
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Pelajaran terbesar dari peristiwa ini sesungguhnya tidak hanya ditujukan kepada dokter.

Ia ditujukan kepada seluruh masyarakat digital.

Kita semua kini hidup di bawah kekuasaan algoritma yang mendorong kecepatan, kemarahan, dan sensasi. Jika tidak berhati-hati, kita perlahan mengukur nilai sebuah pendapat bukan dari kebijaksanaannya, melainkan dari jumlah “like”, “share”, atau komentar yang diperoleh.

Padahal ukuran moral tidak pernah ditentukan oleh viralitas.

Aristoteles tidak pernah berkata bahwa manusia yang baik adalah manusia yang paling terkenal.

Ia mengatakan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang memiliki kebajikan.

Di sinilah relevansi filsafat itu bagi zaman kita.
Kemajuan teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan karakter.

Kecerdasan buatan tidak akan pernah menggantikan belas kasih.

Algoritma tidak pernah mengenal rasa iba.
Hanya manusia yang mampu melakukannya.

Maka, di tengah dunia yang semakin bising oleh notifikasi, barangkali profesi kedokteran perlu kembali mengingat prinsip yang paling sederhana sekaligus paling agung: setiap pasien adalah manusia sebelum ia menjadi kasus; setiap keluhan adalah suara yang patut didengar sebelum ia menjadi bahan perdebatan; dan setiap kata yang keluar dari seorang dokter harus membawa semangat menyembuhkan, bukan melukai.

Karena pada akhirnya, masyarakat mungkin lupa nama obat yang diberikan seorang dokter.

Tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana seorang dokter memperlakukan mereka.
Itulah kebajikan.

Dan kebajikan, sebagaimana diyakini Aristoteles, adalah fondasi dari kehidupan yang baik sekaligus fondasi dari profesi yang bermartabat. (*)

Jakarta, 5 Agustus 2026
#BuyaDarwis

 

Tinggalkan Balasan

Search