Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan tertinggal tren, kini bukan lagi sekadar isu psikologis biasa. Jika tidak dikelola dengan bijak, ketergantungan pada validasi media sosial ini dapat menggerogoti kualitas diri, mengganggu kesehatan mental, bahkan bertransformasi menjadi penyakit hati.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon, dalam kajian interaktif di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (20/6/2026).
Nur Fajri tidak menampik bahwa kecemasan digital ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan ia pernah merasakannya sendiri. “Perasaan takut ketinggalan itu memang tidak nyaman. Kita terus mengecek ponsel, menunggu kabar, dan gelisah saat informasi yang diharapkan tak kunjung tiba,” akunya.
Secara sosiologis, kelompok usia 18 hingga 34 tahun menjadi yang paling rentan terhadap fenomena ini. Nur Fajri mengaitkannya dengan fase hidup yang penuh ketidakpastian.
“Usia muda adalah fase krusial yang penuh ketidakpastian. Belum jelas kapan lulus kuliah, di mana akan bekerja, hingga siapa jodohnya. Dalam situasi gamang seperti ini, seseorang menjadi sangat rapuh dan mudah membandingkan dirinya dengan orang lain,” paparnya.
Mengutip pemikiran ulama besar seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Khaldun, ia menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang secara naluriah ingin menjadi bagian dari kelompoknya. Dorongan inilah yang memicu hasrat untuk selalu ikut serta dalam setiap tren agar tidak merasa terasing.
Kisah Qarun: Gejala FOMO Lintas Zaman
Meski keinginan terhubung dengan lingkungan adalah hal wajar, FOMO menjadi berbahaya saat berubah menjadi rasa iri, rendah diri, dan kufur nikmat. Nur Fajri kemudian menganalogikan fenomena ini dengan kisah Qarun dalam Surah Al-Qashash.
Ketika Qarun memamerkan kemewahannya, masyarakat zaman itu terpesona dan langsung membandingkan nasib mereka. Rasa minder yang akut tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an:
“Aduhai, seandainya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun…” (QS. Al-Qashash: 79)
“Respons masyarakat terhadap Qarun adalah potret nyata gejala FOMO masa kini. Kita melihat kesuksesan semu orang lain di media sosial, lalu merasa hidup kita tidak berharga. Dari sinilah overthinking, gangguan tidur, hingga kecanduan digital bermula,” tegas Nur Fajri.
Dalam khazanah Islam, FOMO akut beririsan dekat dengan hasad (dengki). Ibn Qayyim al-Jawziyyah mendefinisikan hasad sebagai keinginan agar nikmat orang lain lenyap.
Namun, Nur Fajri menggarisbawahi bahwa FOMO modern sering kali tidak mewujud sebagai kebencian kepada orang lain, melainkan perilaku merendahkan dan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.
Untuk menangkal dampak buruk tersebut, Nur Fajri membagikan tiga formula praktis yang bisa diterapkan generasi muda:
Membangun Support System yang Sehat. Lingkungan pergaulan sangat menentukan kesehatan mental. Ia mencontohkan Siti Khadijah yang langsung menenangkan dan membangun optimisme Nabi Muhammad saw. saat pertama kali menerima wahyu di Gua Hira.
Meluruskan Orientasi Hidup (Fokus Akhirat). Sesuai hadis Nabi, barang siapa yang menjadikan dunia sebagai ambisi utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan membayangi matanya dengan kemiskinan (merasa serba kekurangan). Sebaliknya, fokus pada akhirat akan mendatangkan ketenangan batin.
Mengubah FOMO Menjadi Motivasi Positif (Healthy FOMO). Jadikan pencapaian orang lain sebagai bahan bakar untuk maju, bukan alasan untuk meratapi nasib. “Kalau melihat teman lulus sidang skripsi atau aktif di kegiatan positif, kita harus ikut termotivasi untuk menyusul keberhasilan mereka,” ujarnya.
Sebagai penutup, Nur Fajri menganjurkan generasi muda untuk melakukan digital fasting (puasa digital). Membatasi waktu layar (screen time) dinilai efektif mengurangi paparan gaya hidup mewah orang lain yang sering kali bias di media sosial.
“Jangan sampai FOMO merenggut kedamaian hati kita. Ubah rasa minder menjadi rasa syukur. Dengan begitu, kita bisa tumbuh menjadi generasi Muslim yang tangguh dan berkualitas,” pungkasnya. (*/tim)
