Kesehatan fisik manusia sejatinya berakar dari kondisi jiwanya. Menukil semangat lagu kebangsaan Indonesia Raya—“bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”—Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Saad Ibrahim, menegaskan bahwa kekuatan fisik seorang muslim sangat bergantung pada kesehatan mental dan spiritualnya.
“Ketika jiwa seseorang sehat, implikasinya terhadap fisik akan sangat luar biasa. Parameter jiwa yang sehat itu dicirikan oleh rasa optimis, serta bersih dari penyakit hati seperti dengki, iri, dan dendam,” ujar Kiai Saad dalam program Tausiyah Kiai Saad di TVMu Channel, Senin (6/7/2026).
Menurut Kiai Saad, konsep ini sejalan dengan pepatah Latin klasik karya penyair Romawi Decimus Iunius Iuvenalis, mens sana in corpore sano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat). Namun dalam Islam, titik tekannya ditarik lebih mendalam pada aspek spiritual, sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’ara ayat 80: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
Filosofi As-Syifa dalam Al-Qur’an
Kiai Saad kemudian membedah makna kebahasaan dari kata kesembuhan dalam Al-Qur’an yang menggunakan diksi as-syifa. Secara tekstual, as-syifa memiliki dua dimensi arti: proses penyembuhan itu sendiri dan hasil akhir berupa kesembuhan.
Di dalam Al-Qur’an, kata syifa ditemukan di empat tempat berbeda, yakni:
- QS. Yunus ayat 57 (Al-Qur’an sebagai obat penawar)
- QS. Al-Isra ayat 82 (Al-Qur’an sebagai rahmat dan penawar)
- QS. Fushshilat ayat 44 (Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penawar)
- QS. An-Nahl ayat 69 (Madu sebagai obat yang menyembuhkan)
“Menariknya, tiga dari empat ayat tersebut mengaitkan syifa dengan fungsi Al-Qur’an, yang berarti korelasinya sangat kuat dengan penyembuhan jiwa. Sementara satu ayat di Surat An-Nahl berkaitan dengan madu yang berfungsi untuk kesehatan fisik,” urai Saad.
Meski madu penting untuk menjaga raga, Kiai Saad memberikan perhatian terhadap mental dan spiritual harus jauh lebih dominan. Ia bahkan memberikan persentase ideal dalam menjaga keseimbangan hidup.
“Sekitar 75% perhatian kita harus dicurahkan untuk menata jiwa, sedangkan 25% sisanya diarahkan pada urusan fisik,” sebutnya.
Rangkaian kesehatan ini berhulu pada seberapa dekat interaksi manusia dengan Al-Qur’an. Membaca, mentadaburi, serta mengambil ibrah (pelajaran positif) dari kitab suci adalah modal utama meraih ketenangan jiwa, yang kemudian disempurnakan dengan ikhtiar menjaga fisik.
“Bacalah Al-Qur’an. Insyaallah, ia akan mengalirkan energi dan kekuatan yang sangat dahsyat ke dalam diri kita,” pungkasnya. (*/tim)
