Sejarah perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu peristiwa paling transformatif dalam peradaban manusia. Dakwah beliau tidak hanya mengubah tatanan sosial, moral, dan spiritual masyarakat Arab kala itu, tetapi juga meletakkan fondasi ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Perjalanan dakwah ini secara garis besar terbagi ke dalam dua periode utama yaitu periode Makkah yang berfokus pada penanaman akidah dan ketauhidan, serta periode Madinah yang berfokus pada pembentukan tatanan sosial, hukum, dan syariat Islam.
Perjalanan dakwah dimulai saat Nabi Muhammad SAW memasuki usia 40 tahun. Ketika sedang berkontemplasi di Gua Hira, beliau menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril AS, yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Peristiwa ini menandai pengangkatan beliau sebagai seorang nabi dan rasul. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW merasa gentar. Beberapa waktu kemudian, turun perintah untuk mulai menyampaikan risalah melalui Surah Al-Muddassir ayat 1–7. Pada tahap awal, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi (da’wah sirriyyah) selama kurang lebih tiga tahun untuk membangun benteng kekuatan keimanan awal di tengah masyarakat Quraisy yang masih sangat kental dengan tradisi kemusyrikan.
Orang-orang pertama yang menerima dakwah beliau dikenal sebagai Assabiqunal Awwalun, antara lain Khadijah binti Khuwailid (isteri beliau), Ali bin Abi Thalib (sepupu beliau), Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat karib), dan Zaid bin Haritsah. Pusat pembinaan keimanan dan pengajaran tauhid pada masa ini dipusatkan di rumah Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam).
Setelah asas-asas keimanan terpatri kuat pada pengikut awal, Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk mengumumkan ajaran Islam secara terbuka. Perintah tersebut tertuang dalam Al-Qur’an:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
Artinya: “Maka sampaikanlah (olehmu Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)
Nabi Muhammad SAW kemudian naik ke Bukit Shafa dan memanggil seluruh suku bangsa Quraisy untuk mengajak mereka menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan penyembahan berhala. Namun, seruan terbuka ini memicu penolakan keras dari para pemimpin Quraisy seperti Abu Lahab dan Abu Jahal.
Penolakan kaum Musyrikin tidak sekadar berupa penolakan verbal, melainkan berkembang menjadi intimidasi fisik, tekanan ekonomi, hingga penyiksaan terhadap kaum muslimin dari kalangan lemah dan budak, seperti Bilal bin Rabah dan keluarga Yasir.
Meskipun mendapat tekanan luar biasa, Nabi SAW tetap mengajarkan kelembutan dan kesabaran. Beliau menegaskan bahwa ajaran Islam yang dibawanya adalah bentuk kasih sayang bagi seluruh alam. Allah SWT menegaskan misi utama kerasulan Nabi SAW:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW juga menerangkan bahwa kedatangan beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasullah brsabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Melihat penyiksaan terhadap para sahabat semakin memuncak, Nabi SAW mengambil keputusan strategis untuk menyelamatkan pengikutnya dengan memerintahkan hijrah pertama ke Habasyah (Etiopia), yang dipimpin oleh Raja Najasyi—seorang raja Kristen yang adil.
Pada periode Makkah akhir, Nabi SAW mengalami masa-masa yang sangat berat yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘amul huzni (tahun kesedihan), yaitu wafatnya pelindung utama beliau, Abu Thalib, dan isteri tercinta, Khadijah. Mencari perlindungan dan basis dakwah baru, Rasulullah SAW berjalan menuju Ta’if. Namun, masyarakat Ta’if justru melemparinya dengan batu hingga beliau terluka.
Di tengah ujian berat tersebut, Allah SWT memberikan penghiburan dan pemuliaan berupa peristiwa Isra dan Mikraj, di mana beliau menerima perintah salat lima waktu secara langsung.
Memasuki musim haji, Nabi SAW menemui kabilah-kabilah dari luar Makkah. Hasilnya, sekelompok penduduk Yathrib (Madinah) menerima ajaran Islam melalui Perjanjian ‘Aqabah I dan II. Mereka berjanji untuk melindungi Rasulullah SAW dan menyebarkan ajaran Islam di kota mereka.
Peristiwa hijrah ke Madinah menjadi titik balik paling krusial dalam sejarah Islam. Hijrah bukan sekadar tindakan melarikan diri, melainkan strategi besar untuk membangun basis masyarakat Islam yang berdaulat.
Ada beberapa langkah strategis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat di Madinah diantaranya:
- Melakukan pembangunan Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah, pemerintahan, dan pembinaan masyarakat.
- Pempersaudaraan (muo’akhat) kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) dan kaum Anshar (penduduk asli Madinah).
- Piagam Madinah (Mithaq al-Madinah), yaitu konstitusi tertulis pertama di dunia yang mengatur hak dan kewajiban seluruh warga Madinah, termasuk suku-suku Yahudi dan Arab non-Muslim.
Di Madinah, Islam berkembang pesat menjadi sebuah tatanan masyarakat dan negara. Untuk mempertahankan keberlangsungan dakwah dan melindungi umat dari serangan musuh, Allah SWT mengizinkan umat Islam untuk mengangkat senjata dalam peperangan defensive (bertahan). Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWT:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
Artinya: “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 39)
Berbagai pertempuran penting terjadi, seperti Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Puncak dari keberhasilan perjalanan dakwah beliau adalah peristiwa fathu Makkah (penaklukan kota Makkah). Kota Makkah dikuasai tanpa pertumpahan darah berarti. Nabi SAW memberikan pengampunan umum kepada penduduk Makkah yang dahulu memusuhi dan mengusirnya.
Allah SWT berfirman mengenai peristiwa kemenangan ini:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (١) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (٢) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (٣)
Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (QS. An-Nasr: 1-3)
Perjalanan panjang dakwah Rasulullah SAW mencerminkan penerapan metodologi dakwah yang komprehensif, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Al-Qur’an merumuskan metode dakwah ini dalam tiga pendekatan utama:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)
Sebelum wafatnya, Rasulullah SAW menyampaikan khotbah perpisahan (Khutbatul Wada’) saat menunaikan Haji Wada’. Beliau meninggalkan dua pegangan utama bagi seluruh umat manusia agar tidak tersesat selamanya. Dalam hadis sahih disebutkan:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Artinya: “Aku telah meninggalkan bagi kalian dua perkara; kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya: kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik)
Perjalanan dakwah beliau ditutup dengan turunnya wahyu terakhir di Padang Arafah yang menegaskan kesempurnaan agama Islam:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW memberikan teladan nyata mengenai kegigihan, strategi, kesabaran, dan keluhuran akhlak. Dari sebuah gerakan kecil di kota Makkah, dakwah Islam berhasil mengubah wajah peradaban dunia menuju tatanan tauhid yang beradab. (*)
