Setiap kali korupsi terungkap, selalu ada kalimat yang terdengar pasrah:
“Memang sudah begini Indonesia.”
Kalimat itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya berbahaya. Ia mengubah kejahatan menjadi takdir, lalu membebaskan manusia dari tanggung jawab. Padahal, Allah tidak pernah menakdirkan seseorang menjadi koruptor.
Yang ditakdirkan adalah kelahiran dan kematian. Adapun menerima suap, menjual jabatan, mengatur proyek, membeli kekuasaan, atau mencuri uang rakyat adalah pilihan. Dan setiap pilihan akan dihisab.
Korupsi tidak lahir dari langit.
Ia lahir dari sistem yang memberi peluang, budaya yang menoleransi, dan manusia yang memilih untuk mengkhianati amanah.
Selama kekuasaan diperlakukan sebagai investasi yang harus balik modal, korupsi akan terus mencari jalannya. Selama politik dibiayai dengan ongkos yang tidak sehat tanpa pengawasan yang kuat, rakyatlah yang akhirnya membayar tagihannya.
Maka, jangan salahkan qadha.
Yang perlu dikoreksi adalah ikhtiar kita.
Bangsa ini bukan dikutuk oleh takdir. Bangsa ini sedang memanen akibat dari pilihan-pilihannya sendiri.
Sebab sejarah tidak diubah oleh keluhan, melainkan oleh keberanian mengoreksi sistem dan memperbaiki manusia.
Jangan membawa nama Tuhan untuk membenarkan kegagalan manusia.
Jakarta 16 Juli 2026
#BuyaDarwis
