Membaca Al Qur’an Terbata-bata pun Berpahala, Jalan Mulia yang Sering Diremehkan

Membaca Al Qur’an Terbata-bata pun Berpahala, Jalan Mulia yang Sering Diremehkan
*) Oleh : Anas Febriyanto
Anggota KM3Nas DPP IMM, Kabid Tabligh PC IMM Surabaya
www.majelistabligh.id -

Membaca Al-Qur’an bagi sebagian orang masih terasa seperti wilayah “yang hanya untuk mereka yang sudah lancar”. Ada rasa minder, takut salah, bahkan malu ketika huruf demi huruf belum fasih terucap. Padahal, justru di titik itulah Islam menghadirkan harapan yang sangat besar bahwa keterbatasan bukan penghalang pahala, melainkan pintu keberkahan.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar menyampaikan pesan yang begitu dalam. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Hadis ini tidak hanya memuji mereka yang mahir membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengangkat derajat mereka yang masih belajar. Yang lancar ditempatkan bersama para malaikat yang mulia, sementara yang terbata-bata yang sering merasa kesulitan justru mendapatkan dua pahala sekaligus. Ini bukan sekadar keutamaan, melainkan penegasan bahwa usaha tidak pernah sia-sia di hadapan Allah.

Dalam realitas kehidupan, seringkali kita terjebak pada standar kesempurnaan. Seolah-olah ibadah harus dilakukan dengan tanpa cela. Akibatnya, banyak orang menunda belajar membaca Al-Qur’an. Mereka berpikir, “Nanti saja kalau sudah siap, atau Kalau sudah lancar baru berani.” Padahal, tidak ada proses belajar tanpa kesalahan. Tidak ada kefasihan tanpa pernah terbata-bata.

Di sinilah letak keindahan ajaran Islam. Ia tidak hanya menghargai hasil, tetapi juga menghargai proses. Bahkan, dalam beberapa kondisi, proses itu diberi nilai lebih tinggi karena mengandung kesabaran dan ketulusan. Orang yang terbata-bata bukanlah orang yang tertinggal, melainkan orang yang sedang berjalan dan setiap langkahnya dicatat sebagai ibadah.

Namun, yang menjadi ironi adalah sikap sebagian masyarakat yang justru mempersulit proses ini. Masih ada yang menertawakan bacaan yang keliru, menyindir yang belum fasih, atau memberi label “kurang bisa”. Padahal, sikap seperti itu berlawanan dengan semangat hadis Nabi. Alih-alih memotivasi, justru mematikan semangat orang untuk belajar.

Sudah saatnya kita membangun budaya yang lebih ramah terhadap proses belajar Al-Qur’an. Mereka yang mahir seharusnya menjadi pembimbing, bukan penghakim. Mereka yang masih belajar harus diberi ruang, bukan tekanan. Karena bisa jadi, orang yang hari ini terbata-bata adalah orang yang esok hari lebih dekat dengan Al-Qur’an dibandingkan kita yang merasa sudah lancar.

Lebih jauh lagi, hadis ini juga mengajarkan tentang mentalitas hidup. Kesulitan bukan tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa kita sedang berusaha. Dalam konteks apa pun baik belajar, bekerja, maupun beribadah nilai sebuah usaha tidak diukur dari mudah atau tidaknya, tetapi dari kesungguhan yang menyertainya.

Membaca Al-Qur’an pada akhirnya bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi perjalanan hati. Ia adalah proses mendekat kepada Allah, sedikit demi sedikit, huruf demi huruf. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, dan tidak ada alasan untuk berhenti hanya karena belum sempurna.

Maka, jika hari ini masih terbata-bata, teruslah membaca. Jika masih merasa sulit, teruslah mencoba. Karena di balik setiap kesulitan itu, ada pahala yang berlipat. Dan di balik setiap usaha yang tulus, ada jalan menuju kemuliaan yang dijanjikan. Sebab dalam pandangan Allah, yang dinilai bukan hanya seberapa baik kita membaca, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita berusaha. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search