Membaca Kembali Sebuah Adagium

Membaca Kembali Sebuah Adagium
*) Oleh : Dr. Jaharuddin
Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta.
www.majelistabligh.id -

Karena itu, keikhlasan pun tidak tepat jika hanya diukur dari ada atau tidak adanya imbalan. Keikhlasan adalah perkara niat dan cara menjalankan amanah. Orang yang menerima gaji dapat bekerja dengan sungguh-sungguh, jujur, dan penuh tanggung jawab. Sebaliknya, pengabdian tanpa imbalan pun tidak dengan sendirinya membuat seseorang terbebas dari berbagai kepentingan diri. Dalam kehidupan bersama, lebih baik kita tidak terlalu mudah menilai wilayah batin orang lain. Keikhlasan pada akhirnya adalah urusan yang terus-menerus kita periksa dalam diri sendiri.

Di zaman sekarang, persoalan ini menjadi semakin penting. Muhammadiyah telah berkembang menjadi gerakan yang mengelola berbagai bentuk pelayanan pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Perkembangan sebesar itu tentu membutuhkan semangat pengabdian, tetapi juga memerlukan kompetensi, disiplin, tata kelola, kesinambungan, dan profesionalisme. Tidak cukup sebuah amal usaha dikelola hanya dengan niat baik; niat baik harus menjelma menjadi pekerjaan yang baik pula.

Karena itu, profesionalisme dan pengabdian sesungguhnya tidak perlu ditempatkan di dua kutub yang saling berlawanan. Profesionalisme dapat menjadi salah satu bentuk pengabdian. Datang tepat waktu, bekerja sesuai keahlian, menjaga mutu pelayanan, menggunakan aset secara bertanggung jawab, terus belajar, bersedia dievaluasi, dan memperbaiki kekurangan merupakan bentuk nyata dari ikhtiar menghidupkan Muhammadiyah. Sebaliknya, semangat pengabdian memberi jiwa kepada profesionalisme agar pekerjaan tidak berhenti sebagai hubungan yang semata-mata transaksional.

Barangkali di sinilah adagium itu menemukan maknanya yang paling relevan. Ia mengajak kita menjaga keseimbangan antara hak dan amanah. Orang yang bekerja mempunyai hak yang patut dihormati. Pada waktu yang sama, siapa pun yang memperoleh amanah mempunyai tanggung jawab terhadap keberlangsungan institusi yang dipercayakan kepadanya. Hak tidak perlu dihilangkan demi pengabdian, dan pengabdian tidak perlu dilupakan ketika hak telah terpenuhi.

Ada satu cara sederhana agar adagium ini tetap teduh ketika digunakan, menjadikannya lebih dahulu sebagai bahan muhasabah, bukan sebagai alat untuk membaca niat orang lain. Daripada bertanya, “Siapa yang mencari hidup di Muhammadiyah?”, mungkin lebih baik kita bertanya, “Apa yang sudah saya hidupkan di Muhammadiyah?” Pertanyaan pertama dapat membawa kita pada prasangka. Pertanyaan kedua membawa kita kembali kepada diri sendiri.

Dari sana, pembicaraan menjadi lebih lapang. Mereka yang bekerja secara profesional tidak perlu merasa pengabdiannya diragukan hanya karena memperoleh penghasilan. Mereka yang memberikan waktu, tenaga, atau hartanya secara sukarela juga tetap mempunyai ruang pengabdian yang sangat mulia. Tidak perlu ada pertentangan di antara keduanya. Yang mempertemukan semuanya adalah amanah, setiap orang berusaha memberikan yang terbaik dari posisi yang dipercayakan kepadanya.

Pada akhirnya, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan cari penghidupan di Muhammadiyah” akan tetap menjadi pesan yang indah apabila kita membacanya dengan semangat yang membangun. Ia tidak harus menjadi kalimat untuk menentukan siapa yang lebih ikhlas, siapa yang lebih berjasa, atau siapa yang lebih berhak disebut berjuang. Cukuplah ia menjadi pengingat bahwa Muhammadiyah adalah ruang bersama untuk beramal, bertumbuh, bekerja, dan memberi manfaat.

Kita boleh memperoleh kehidupan yang layak dari pekerjaan yang dijalankan dengan benar. Kita boleh bertumbuh bersama institusi tempat kita berkhidmat. Tetapi semoga, di tengah semua itu, selalu ada sesuatu yang kita kembalikan, pekerjaan yang semakin baik, pelayanan yang semakin bermutu, amanah yang semakin terjaga, dan kemanfaatan yang semakin luas.

Mungkin itulah cara paling sederhana untuk terus menghidupkan Muhammadiyah, tidak berhenti pada apa yang kita peroleh darinya, tetapi senantiasa memikirkan apa yang dapat kita tambahkan bagi keberlanjutan dan kemanfaatannya. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search