Menghadapi Keburukan Orang lain dengan Surah Al-Muzammil Ayat 10

Menghadapi Keburukan Orang lain dengan Surah Al-Muzammil Ayat 10
*) Oleh : Abdul Hafid
Anggota LDK PDM Bojonegoro.
www.majelistabligh.id -

Kehidupan di dunia ini tidak luput dari ujian dan cobaan, baik dalam bentuk musibah fisik, kesulitan ekonomi maupun tekanan sosial dari orang lain. Di era digital ini, setiap orang bisa sangat mudah menyampaikan pendapatnya. Namun, yang disayangkan adalah kebebasan berpendapat itu tidak selalu digunakan dengan bijak, banyak orang yang masih menghina, menyebarkan fitnah, dan berkomentar yang menyakitkan jika tidak sependapat dengannya. Di situasi yang panas dan menyakitkan seperti ini, menjadi penyebab orang terpancing emosinya dan merasa harus membalas setiap ucapan dengan cara yang setimpal.

​Islam mengajarkan cara yang jauh lebih elegan dan bermartabat. Surah Al-Muzammil ayat 10 menjadi jawaban untuk kita ketika sedang menghadapi perilaku dan ucapan buruk orang-orang yang ada di sekitar kita. Allah berfirman:
وَا صْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا
Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.”

​Ayat ini turun pada masa awal dakwah Nabi Muhammad di Makkah. Saat itu, kaum Quraisy melontarkan berbagai macam tuduhan kepada beliau. Nabi dituduh sebagai penyair, orang gila, penyihir, bahkan pendusta. Ucapan-ucapan seperti ini tentu sangat menyakitkan. Allah tidak memerintahkan Nabi untuk membalasnya, namun Allah memerintahkan untuk bersabar dan meninggalkan kaum Quraisy dengan cara yang baik.

​Ibnu Katsir mengatakan bahwa perintah “wasbir” merupakan arahan untuk Nabi Muhammad agar tetap teguh dalam menjalankan dakwah meskipun banyak hinaan dan gangguan. Kesabaran dalam ayat ini bukanlah sikap pasif atau menyerah karena keadaan, melainkan keteguhan hati dalam menyebarkan kebenaran tanpa dikendalikan amarah. Perjuangan dalam menyebarkan kebenaran tetap berlanjut dan jangan sampai ucapan manusia menghentikannya.

​Kalimat “wahjur-hum hajron jamiilaa” yang artinya “tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik” memiliki makna yang sangat mendalam. Meninggalkan bukan berarti memutus tali silaturahmi, melainkan memilih untuk menjauhkan diri dari perbuatan buruk seseorang tanpa disertai kebencian, hinaan, dan dendam.

​Al-Qurthubi menjelaskan “hajron jamiilaa” adalah meninggalkan tanpa menyakiti, mencaci, dan dendam. Sikap ini menunjukkan akhlak seorang muslim. Seseorang yang mampu menjaga lisannya dan mengendalikan emosinya saat diperlakukan dengan buruk justru menunjukkan kekuatan karakter yang sesungguhnya.

​Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini sebagai pengguna sosial media. Munculnya fenomena cyberbullying, ujaran kebencian, hingga perdebatan yang dipenuhi dengan kata-kata kasar, jika tidak disikapi dengan bijaksana maka dapat merusak hubungan pertemanan karena sikap merasa paling benar. Kondisi seperti ini membuat seseorang sangat mudah terpancing untuk membalas ucapan yang sama kasarnya, padahal membalas keburukan dengan keburukan akan memperparah keadaan.

​Kita perlu meneladani sikap Nabi Muhammad dalam ayat ini. Kita pahami bahwa tujuan dakwah ataupun interaksi sosial adalah menebar kedamaian bukan kebencian. Penting menjaga self-control atau kendali diri, Kita memang tidak bisa mengontrol ucapan orang lain kepada kita, namun kita bisa mengontrol bagaimana kita merespons ucapan tersebut.

​Surah Al-Muzammil ayat 10 menjadi cara kita menghadapi keburukan orang lain sekaligus mengajarkan kita bahwa kesabaran bukan tanda kelemahan. Meninggalkan keburukan dengan cara yang baik bukanlah sebuah kekalahan, ini menunjukkan keluhuran akhlak orang yang beriman. Dunia yang semakin gaduh karena komentar, fitnah, dan perdebatan, ayat ini mengingatkan kita untuk tetap tenang dan menjaga lisan. Kehormatan hamba tidaklah ditentukan oleh apa yang manusia katakan, melainkan kemampuan menjaga akhlak dan menundukkan nafsunya di hadapan Allah. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search