Menghidupkan Spirit Fastabiqul Khairat dalam Organisasi

Menghidupkan Spirit Fastabiqul Khairat dalam Organisasi
*) Oleh : Mohammad Nur Rianto Al Arif
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah & Ketua PDM Jakarta Timur
www.majelistabligh.id -

Lebih jauh lagi, budaya berlomba dalam kebaikan akan memperkuat solidaritas internal. Kompetisi tidak lagi dipahami sebagai hubungan menang-kalah (zero-sum game), melainkan sebagai upaya saling menginspirasi untuk meningkatkan kualitas diri. Ketika satu kader berhasil, kader lain terdorong untuk meningkatkan kapasitasnya. Ketika satu cabang berkembang, cabang lain terdorong untuk melakukan inovasi serupa. Inilah kompetisi yang melahirkan sinergi, bukan perpecahan.

Baca juga: https: Bahaya Political Engineering dalam Kontestasi Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah

Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat besar untuk menumbuhkan budaya tersebut. Jaringan organisasi yang luas, tradisi intelektual yang kuat, serta pengalaman panjang dalam pelayanan umat menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun organisasi yang terus bertumbuh. Namun, modal itu hanya akan menghasilkan kemajuan apabila dihidupkan oleh kader-kader yang memiliki keikhlasan, integritas, dan semangat untuk berlomba dalam amal saleh.

Menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah, refleksi mengenai fastabiqul khairat menjadi semakin relevan. Pergantian kepemimpinan hendaknya dipandang sebagai momentum untuk memperkuat estafet perjuangan, bukan sebagai arena kontestasi yang menguras energi. Saat ini yang dibutuhkan Muhammadiyah bukan sekadar pemimpin yang hebat, melainkan budaya organisasi yang membuat seluruh kader berlomba menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang paling banyak memiliki struktur atau sumber daya. Organisasi yang besar adalah organisasi yang berhasil menanamkan keyakinan bahwa setiap kader adalah pelaku kebaikan, setiap amanah adalah ladang ibadah, dan setiap keberhasilan adalah kemenangan bersama. Ketika semangat fastabiqul khairat benar-benar hidup dalam setiap denyut organisasi, dakwah tidak hanya berjalan, tetapi juga terus melahirkan peradaban yang mencerahkan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search